KAMPUS KARIER

Seribu Kursi Kosong SD Negeri, Sinyal Pergeseran Preferensi Pendidikan Masyarakat

  • Administrator
  • Minggu, 28 Juni 2026
  • menit membaca
  • 18x baca
Seribu Kursi Kosong SD Negeri, Sinyal Pergeseran Preferensi Pendidikan Masyarakat

Seribu Kursi Kosong SD Negeri, Sinyal Pergeseran Preferensi Pendidikan Masyarakat

Oleh: Yuningsih P

Yogyakarta, jogja-ngangkring.com - Fenomena kosongnya sekitar seribu kursi pada penerimaan peserta didik baru di Sekolah Dasar (SD) Negeri Kota Yogyakarta tidak layak dipandang sekadar sebagai persoalan teknis penerimaan siswa. Peristiwa ini merupakan tanda perubahan sosial yang mencerminkan bergesernya preferensi masyarakat dalam memilih pendidikan dasar. Jika selama ini penurunan angka kelahiran sering dijadikan penjelasan utama, fakta bahwa banyak sekolah swasta tetap dipenuhi pendaftar menunjukkan adanya faktor lain yang lebih mendasar, yakni perubahan cara pandang orang tua terhadap kualitas pendidikan.

Pilihan sekolah kini tidak lagi semata ditentukan oleh biaya yang murah atau status sekolah negeri. Orang tua semakin mempertimbangkan lingkungan belajar, pembentukan karakter, penguatan nilai-nilai agama, kedisiplinan, keamanan, hingga pola komunikasi antara sekolah dan keluarga. Pendidikan dipandang sebagai investasi jangka panjang sehingga keputusan memilih sekolah (terutama sekolah dasar sebagai pondasinya) dilakukan secara lebih rasional berdasarkan manfaat yang diyakini akan diterima anak.

Kecenderungan tersebut terlihat dari meningkatnya minat terhadap sekolah swasta berbasis keagamaan. Meskipun biaya pendidikan relatif lebih tinggi, banyak keluarga tetap bersedia membayarnya karena memperoleh layanan yang dianggap lebih utuh. Sekolah tidak hanya mengajarkan mata pelajaran akademik, tetapi juga membangun kebiasaan beribadah, disiplin, etika, serta budaya sekolah yang sejalan dengan nilai-nilai keluarga. Bagi banyak orang tua, pendidikan agama tidak lagi dimaknai sebagai tambahan jam pelajaran, melainkan sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari di lingkungan sekolah.

Fenomena ini dapat dijelaskan melalui teori modal sosial James S. Coleman (1988). Coleman menegaskan bahwa keberhasilan pendidikan tidak hanya ditentukan oleh proses pembelajaran di kelas, tetapi juga oleh kualitas hubungan antara sekolah, keluarga, dan komunitas. Lingkungan sosial yang mendukung akan memperkuat pembentukan karakter dan perkembangan anak. Perspektif ini menjelaskan mengapa sekolah berbasis agama dipersepsikan memiliki nilai tambah dibandingkan sekadar menawarkan kurikulum akademik.

Pierre Bourdieu (1986) juga menjelaskan bahwa pilihan pendidikan merupakan bagian dari strategi keluarga dalam membangun modal budaya (cultural capital). Orang tua tidak sekadar membeli layanan pendidikan, tetapi juga memilih lingkungan sosial, jaringan pergaulan, serta identitas yang diharapkan dapat menjadi bekal masa depan anak. Dalam konteks ini sekolah menjadi simbol kualitas sekaligus representasi harapan keluarga.

Pandangan tersebut sejalan dengan laporan Education at a Glance OECD (2023) yang menunjukkan bahwa kualitas guru, lingkungan belajar, pendidikan karakter, keamanan, dan budaya sekolah semakin menjadi pertimbangan utama dalam memilih sekolah. Status negeri atau swasta tidak lagi menjadi penentu utama. Yang lebih penting adalah sejauh mana sekolah mampu membangun kepercayaan masyarakat melalui kualitas layanan yang nyata.

Bagi sekolah negeri, fenomena ini menjadi momentum untuk melakukan evaluasi menyeluruh. Persoalan utamanya bukan semata-mata kekurangan murid, melainkan munculnya persepsi bahwa kualitas layanan antar sekolah negeri masih belum merata. Pengelompokan sekolah favorit dan nonfavorit terus melahirkan kesenjangan kepercayaan publik. Akibatnya, sebagian sekolah selalu menjadi tujuan utama, sementara sekolah lain kesulitan memperoleh peserta didik.

Perbaikan kualitas tidak cukup dilakukan melalui pembangunan gedung atau penambahan fasilitas fisik. Pemerataan kualitas guru, kepemimpinan kepala sekolah, inovasi pembelajaran, pelayanan kepada orang tua, serta penciptaan budaya sekolah yang positif justru menjadi faktor yang lebih menentukan. UNESCO dalam Global Education Monitoring Report menegaskan bahwa mutu pendidikan dasar tidak hanya diukur dari akses dan sarana, tetapi juga dari kualitas pembelajaran, pendidikan karakter, dan tingkat kepercayaan masyarakat terhadap sekolah.

Pendidikan karakter menjadi aspek yang semakin menentukan pilihan orang tua. Anak usia sekolah dasar berada pada fase pembentukan kepribadian sehingga membutuhkan ruang untuk mengembangkan kejujuran, empati, tanggung jawab, disiplin, dan kemampuan mengenali emosinya secara sehat. Karakter tidak dibangun melalui slogan atau penambahan jam pelajaran semata, tetapi melalui keteladanan guru, budaya sekolah, dan interaksi sehari-hari yang konsisten.

Pemerintah sebenarnya telah menempatkan pendidikan karakter sebagai prioritas melalui kebijakan Profil Pelajar Pancasila. Namun implementasinya masih sangat bergantung pada budaya yang berkembang di masing-masing sekolah. Karena itu, tantangan sekolah negeri bukan sekadar mempertahankan status sebagai penyelenggara pendidikan gratis, melainkan menghadirkan pengalaman belajar yang mampu menjawab harapan masyarakat yang terus berubah.

Fenomena seribu kursi kosong di SD Negeri Kota Yogyakarta memperlihatkan bahwa keputusan orang tua semakin didasarkan pada kualitas, kepercayaan, dan kesesuaian nilai yang ditawarkan sekolah. Perubahan preferensi tersebut menjadi pengingat bahwa keberhasilan pendidikan dasar tidak lagi cukup diukur dari tersedianya bangku sekolah, melainkan dari kemampuan setiap sekolah membangun ekosistem belajar yang berkualitas, berkarakter, dan dipercaya masyarakat sebagai tempat terbaik bagi masa depan anak-anak mereka. (*)

Tinggalkan Komentar

Kirim Komentar