KETIKA POLA ASUH ORANGTUA MEMBUAT SAUDARA KANDUNG SALING MENJAUH
YOGYAKARTA, jogja-ngangkring.com — Ada keluarga yang secara biologis sangat dekat, tetapi secara emosional justru berjarak. Anak-anak lahir dari orang tua yang sama, tumbuh di rumah yang sama, tetapi ketika dewasa mereka tidak merasa dekat satu sama lain. Tidak selalu ada pertengkaran besar yang menjadi penyebabnya. Jarak itu terbentuk perlahan melalui pola pengasuhan yang berlangsung bertahun-tahun.
Dalam psikologi keluarga, hubungan saudara kandung tidak hanya dipengaruhi oleh kepribadian masing-masing anak. Relasi tersebut juga dibentuk oleh family system, yaitu pola hubungan timbal balik di dalam keluarga. Cara ayah dan ibu berkomunikasi, membagi perhatian, memberikan tanggung jawab, merespons kebutuhan setiap anak, serta memperlakukan perbedaan di antara mereka ikut menentukan bagaimana anak memandang saudara kandungnya.
Pada parental differential treatment, orang tua memberikan perlakuan yang berbeda kepada anak-anaknya. Perbedaan perlakuan sebenarnya tidak selalu buruk. Anak yang berbeda usia, kebutuhan, karakter, dan kondisi memang tidak selalu membutuhkan perlakuan yang sama. Masalah muncul ketika perbedaan itu dipersepsikan anak sebagai perbedaan kasih sayang, penghargaan, atau nilai dirinya di mata orang tua.
Misalnya anak sulung dituntut mengerjakan pekerjaan rumah, tapi adiknya cenderung dimanja. Anak yang satu dipercaya, anak lainnya selalu dicurigai. Anak yang berprestasi memperoleh perhatian lebih besar, sedangkan anak yang mengalami kesulitan lebih sering dibandingkan. Lama-kelamaan, masing-masing anak dapat membangun identitas berdasarkan posisi yang diberikan keluarga. Di sini hubungan saudara dapat berubah menjadi hubungan yang kompetitif. Anak tidak lagi hanya bertanya, "Siapa aku?" tetapi juga, "Di mana posisiku dibandingkan kakak atau adikku?"
Ketika kasih sayang orang tua dirasakan sebagai sesuatu yang harus diperebutkan, keberhasilan saudara dapat dipersepsikan sebagai berkurangnya ruang bagi dirinya.
Perbandingan, karena itu, bukan sekadar persoalan kalimat yang menyakitkan. Ia dapat membentuk social comparison di dalam keluarga. Anak belajar mengukur dirinya melalui saudara kandung: lebih pintar atau tidak, lebih sukses atau tidak, lebih disayang atau tidak, lebih berbakti atau tidak. Jika pola tersebut terus berlangsung, saudara yang semestinya menjadi bagian dari secure base justru dapat dipersepsikan sebagai kompetitor.
Triangulasi juga dapat terjadi dalam hubungan antarsaudara. Dalam konteks ini, ketegangan antara orang tua dan salah satu anak dapat melibatkan saudara lainnya sebagai pihak ketiga. Seorang ibu mengeluhkan anak sulung kepada adiknya. Ayah meminta anak kedua mengawasi kakaknya. Orang tua meminta satu anak membujuk atau menasihati saudaranya. Anak kemudian tidak hanya menjalani relasi sebagai saudara, tetapi membawa beban emosional yang berasal dari relasi orang tua dengan saudara tersebut.
Akibatnya, kedekatan emosional menjadi rumit. Anak dapat merasa bahwa mencintai saudaranya berarti harus membela orang tua. Atau sebaliknya, mendekati saudara dianggap seperti berpihak kepada orang yang sedang menjadi sumber konflik. Hubungan saudara yang semestinya relatif horizontal berubah menjadi relasi yang dipenuhi loyalitas, kewajiban, dan posisi.
Ada pula fenomena yang lebih halus: orang tua memberikan label keluarga. "Kakak memang paling bisa diandalkan." "Adik memang dari dulu paling sensitif." "Dia memang anak yang susah diatur." Label yang diulang bertahun-tahun dapat menjadi bagian dari family narrative, yaitu cerita keluarga tentang siapa masing-masing anggotanya. Anak akhirnya tidak hanya menjalani dirinya sendiri, tetapi menjalani identitas yang sudah ditetapkan keluarga.
Ketika pola semacam itu berlangsung lama, anak dapat mengembangkan emotional cutoff, yakni kecenderungan mengambil jarak emosional untuk mengurangi ketegangan dalam hubungan. Ketika dewasa, ia mungkin tetap berhubungan secara formal dengan saudara kandung, tetapi tidak memiliki kedekatan emosional yang cukup. Bertemu saat Lebaran, menghadiri acara keluarga, saling mengucapkan selamat ulang tahun—semuanya berjalan, tetapi tidak ada rasa aman untuk berbagi kehidupan pribadi. Yang menarik, kondisi tersebut tidak selalu lahir dari kebencian. Justru sering kali lahir dari kelelahan emosional.
Seorang kakak mungkin menjauh karena sepanjang hidup merasa selalu dibebani. Seorang adik mungkin menjauh karena sepanjang hidup merasa dibandingkan. Anak yang dianggap paling bermasalah mungkin menghindari keluarga karena merasa tidak pernah benar-benar diterima. Jarak kemudian menjadi mekanisme perlindungan diri.
Pola seperti ini juga dapat merupakan transmisi antargenerasi. Orang tua membawa pengalaman pengasuhan yang mereka terima ketika kecil ke dalam keluarga baru. Pola seperti anak harus patuh, kakak harus mengalah, keberhasilan harus dibandingkan, atau anak harus membantu orang tua mungkin dahulu dianggap sebagai bentuk pendidikan yang wajar. Ketika dibawa ke konteks keluarga masa kini tanpa refleksi, pola tersebut dapat menghasilkan konsekuensi yang berbeda.
Ada perbedaan antara nilai yang diwariskan dan cara menerapkannya. Mengajarkan tanggung jawab itu penting. Menghormati orang tua tetap penting. Mengajarkan kakak untuk menyayangi adik juga baik. Tetapi tanggung jawab tidak harus berarti parentifikasi, penghormatan tidak harus berarti penekanan emosi, dan kasih sayang antarsaudara tidak harus dibangun melalui kewajiban.
Generasi yang sekarang menjadi orang tua, termasuk sebagian generasi Milenial yang masih membawa pola pengasuhan dari generasi sebelumnya, berada pada titik penting dalam proses tersebut. Mereka tidak harus membuang seluruh nilai yang diwariskan orang tuanya. Yang diperlukan adalah kemampuan melakukan reparenting terhadap pola-pola yang ternyata tidak lagi sehat: mengenali pengalaman masa kecil, memahami luka yang mungkin terbawa, lalu memilih secara sadar pola apa yang akan diteruskan kepada anak.
Hubungan saudara tidak tumbuh hanya karena memiliki orang tua yang sama. Attachment antarsaudara membutuhkan pengalaman emosional yang aman. Anak perlu merasakan bahwa saudaranya bukan pesaing untuk mendapatkan cinta orang tua, bukan beban yang harus ditanggung, dan bukan alat untuk menyelesaikan konflik keluarga.
Orang tua mungkin tidak pernah bermaksud memisahkan anak-anaknya. Tidak pernah bermaksud membuat kakak membenci adik atau adik menjauhi kakak. Namun dalam psikologi keluarga, intensi orang tua dan dampak pola asuh adalah dua hal yang berbeda. Niatnya bisa melindungi, tetapi dampaknya bisa membebani. Niatnya bisa mendidik, tetapi dampaknya bisa menciptakan persaingan. Niatnya bisa membuat anak saling membantu, tetapi caranya justru dapat membuat mereka saling menghindari.
Suatu hari orang tua akan semakin tua, anak-anak akan memiliki keluarga dan kehidupan masing-masing. Pada saat itu, orang tua tidak lagi menjadi pusat dari kehidupan mereka. Yang diharapkan tersisa adalah saudara yang masih merasa saling memiliki—bukan sekadar karena hubungan darah, tetapi karena sejak kecil mereka belajar bahwa satu sama lain adalah tempat yang aman untuk pulang.(*)
Tinggalkan Komentar
Kirim Komentar