TERAS

TELADAN PEMUDA, ALI BIN ABI THALIB

  • Administrator
  • Kamis, 29 Oktober 2026
  • menit membaca
  • 6x baca
TELADAN PEMUDA, ALI BIN ABI THALIB

TELADAN PEMUDA, ALI BIN ABI THALIB

YOGYAKARTA, jogja-ngangkring.com — Setiap 28 Oktober, bangsa Indonesia memperingati Hari Sumpah Pemuda. Ikrar yang lahir pada Kongres Pemuda II tahun 1928 itu menegaskan bahwa perbedaan daerah, suku, dan latar belakang tidak boleh menghalangi persatuan bangsa. Semangat tersebut perlu diterjemahkan menjadi keberanian membangun masa depan, terutama ketika generasi muda menghadapi ketidakpastian ekonomi, perubahan teknologi, krisis keteladanan, dan dinamika dunia yang sulit diprediksi.

Sejarah Islam menghadirkan sosok Ali bin Abi Thalib sebagai salah satu teladan pemuda yang layak direnungkan. Sepupu sekaligus menantu Nabi Muhammad SAW ini menerima Islam ketika masih sangat muda. Ia tumbuh dalam lingkungan kenabian dan dikenal sebagai salah seorang sahabat utama Rasulullah. Perjalanan hidupnya memperlihatkan bahwa kemuliaan seorang pemuda tidak semata-mata ditentukan oleh usia, kekayaan, atau kedudukan, tetapi oleh iman, ilmu, keberanian, kesetiaan, dan tanggung jawab.

Keteladanan Ali bin Abi Thalib bukan karena sekadar berani menghadapi bahaya. Keistimewaannya juga terletak pada kesediaannya menempatkan diri dalam perjuangan yang lebih besar daripada kepentingan pribadi. Dalam tradisi Islam, ia dikenang karena kedekatannya dengan Rasulullah, keluasan pengetahuan, keberanian, serta kesungguhannya membela kebenaran.

Salah satu peristiwa yang menggambarkan keberaniannya terjadi menjelang hijrah Nabi Muhammad SAW dari Makkah ke Madinah. Ali bersedia tetap berada di tempat tidur Rasulullah untuk menjalankan tugas yang dipercayakan kepadanya, sementara Nabi meninggalkan Makkah. Peristiwa ini dikenal dalam sirah sebagai gambaran keberanian dan kepercayaan dalam situasi yang berbahaya.

Keteladanan tersebut menunjukkan  keberanian bukan tindakan nekat tanpa pertimbangan, melainkan kesanggupan menjalankan tanggung jawab ketika keadaan tidak mudah. Pemuda yang kuat bukan orang yang tidak mengenal rasa takut, melainkan orang yang tidak membiarkan ketakutan mengalahkan prinsip kebenaran.

Ali juga menjadi pengingat bahwa kecerdasan harus berjalan bersama akhlak. Ilmu tanpa integritas dapat menjadi alat untuk menguasai orang lain. Keberanian tanpa kebijaksanaan dapat berubah menjadi kesombongan. Sementara kesalehan tanpa tanggung jawab sosial berisiko berhenti sebagai kesalehan pribadi.

Pemuda masa kini hidup dalam dunia yang menawarkan banyak kesempatan sekaligus menghadirkan kecemasan. Pendidikan tidak selalu menjamin pekerjaan. Gelar akademik tidak otomatis menghadirkan kemandirian ekonomi. Teknologi membuka peluang usaha, tetapi juga mengubah jenis pekerjaan dan persaingan. Arus informasi yang deras memudahkan orang belajar, sekaligus meningkatkan risiko hoaks, manipulasi, dan kehilangan arah.

Dalam keadaan seperti ini generasi muda perlu membangun diri secara sadar. Konsep self-empowerment atau pemberdayaan diri menjadi relevan. Punya kemampuan mengenali potensi, meningkatkan keterampilan, mengelola emosi, mengambil keputusan, serta bertanggung jawab atas pilihan hidup.

Pemuda tidak cukup hanya menunggu lowongan pekerjaan, bantuan pemerintah, atau kesempatan dari orang lain. Mereka perlu mengembangkan kemampuan yang dibutuhkan masyarakat, membangun jejaring, menciptakan peluang usaha, dan berani memulai dari hal sederhana. Bekerja sebagai karyawan, menjadi profesional, menekuni pertanian, berdagang, mengembangkan industri kreatif, atau membangun usaha digital sama-sama terhormat selama dijalankan secara halal dan bertanggung jawab.

Kemandirian bukan berarti hidup tanpa bantuan orang lain. Kemandirian berarti tidak menggantungkan seluruh masa depan kepada orang lain, sembari tetap bersedia bekerja sama, belajar, dan bergotong royong. Pemuda yang mandiri mampu mengubah pengetahuan menjadi keterampilan, keterampilan menjadi karya, dan karya menjadi manfaat bagi sesama.

Namun, membangun diri tidak boleh berhenti pada ukuran produktivitas dan penghasilan. Keberhasilan yang mengorbankan kejujuran, merusak keluarga, atau menjauhkan seseorang dari Allah bukanlah keberhasilan yang utuh.

Ali bin Abi Thalib memberi inspirasi bahwa iman dan ikhtiar tidak seharusnya dipertentangkan. Tawakal bukan alasan untuk bermalas-malasan. Sebaliknya, kerja keras juga bukan alasan untuk merasa bahwa manusia mampu mengendalikan kehidupan.

Menjadi pemuda yang baik bukan berarti harus sempurna sejak awal. Setiap manusia memiliki kelemahan, pernah keliru, dan menghadapi ujian yang berbeda. Yang penting ialah kemauan untuk terus belajar, bertobat ketika bersalah, memperbaiki hubungan dengan sesama, serta tidak menyerah membangun kehidupan yang lebih baik.

Keselamatan dunia dan akhirat perlu menjadi orientasi hidup. Dunia adalah tempat berikhtiar, berkarya, mencari rezeki yang halal, membangun keluarga, dan memberi manfaat. Akhirat adalah tujuan pertanggungjawaban atas seluruh pilihan dan perbuatan manusia. Keduanya seiring jalan, tidak dipertentangkan.

Meneladani Ali bin Abi Thalib berarti belajar membangun keberanian yang berpijak pada iman, kecerdasan yang disertai kebijaksanaan, dan kekuatan yang digunakan untuk membela kebenaran. Pemuda seperti ini tidak mudah diperbudak tren, tidak kehilangan harga diri karena tekanan lingkungan, dan tidak mengukur seluruh hidup berdasarkan pengakuan manusia.

Pada Hari Sumpah Pemuda, generasi muda Indonesia perlu mengajukan pertanyaan kepada dirinya sendiri: sudahkah kita menjadi manusia yang berguna bagi keluarga, masyarakat, bangsa, dan agama? Sudahkah ilmu yang kita miliki melahirkan karya? Sudahkah kebebasan yang kita nikmati disertai tanggung jawab? Sudahkah cita-cita dunia berjalan seiring dengan persiapan menuju akhirat?

Dari Ali bin Abi Thalib, kita belajar bahwa masa muda adalah kesempatan untuk menanam nilai sebelum datangnya penyesalan. Dari Sumpah Pemuda, kita belajar bahwa masa depan bangsa membutuhkan persatuan dan keberanian untuk bertindak. Ketika kedua pelajaran itu bertemu, lahirlah cita-cita generasi muda yang mandiri dalam ikhtiar, teguh dalam prinsip, bermanfaat bagi sesama, dan senantiasa berharap memperoleh rida Allah SWT. (Tor)

Tinggalkan Komentar

Kirim Komentar