TERAS

MPASI, BELAJAR MAKAN TANPA PAKSAAN

  • Administrator
  • Minggu, 08 November 2026
  • menit membaca
  • 4x baca
MPASI, BELAJAR MAKAN TANPA PAKSAAN

MPASI, BELAJAR MAKAN TANPA PAKSAAN

YOGYAKARTA, jogja-ngangkring.com – Pola asuh anak selalu mengalami perubahan dari masa ke masa. Sesuatu yang dahulu dianggap sebagai cara terbaik dalam mendidik anak, pada perkembangan berikutnya bisa dinilai kurang tepat. Sebaliknya, sejumlah kebiasaan lama justru kembali diperkenalkan dengan pendekatan yang lebih sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan. 

Fenomena ini mirip dengan tren fashion yang terus berputar. Sesuatu yang pernah populer bisa kembali menjadi pilihan setelah beberapa waktu ditinggalkan. Dalam pengasuhan anak, kecenderungan kembali kepada pendekatan alamiah atau back to nature mulai terlihat, termasuk dalam hal pemberian makanan pendamping ASI (MPASI).nSalah satu contohnya adalah perubahan cara orang tua mengenalkan makanan kepada bayi. Jika dahulu produk makanan bayi pabrikan dan berbagai formula praktis menjadi pilihan yang cukup populer, sekarang semakin banyak orang tua yang memperhatikan pentingnya real food. 

Makanan yang berasal dari bahan alami, diolah sendiri, dan disesuaikan dengan kebutuhan gizi serta tahapan perkembangan anak mulai mendapat perhatian. Pendekatan ini mengajak orang tua mengenalkan rasa dan tekstur makanan yang sesungguhnya sejak anak mulai mendapatkan MPASI, sekitar usia enam bulan. Tujuannya bukan sekadar memenuhi kebutuhan nutrisi, tetapi juga membangun kebiasaan makan sehat sejak dini.

Perubahan juga terjadi dalam menghadapi anak yang mengalami kesulitan makan atau dikenal dengan istilah Gerakan Tutup Mulut (GTM). Situasi ini sering membuat orang tua, terutama ibu, merasa khawatir. Berbagai cara dilakukan agar anak mau membuka mulut dan menghabiskan makanannya. Menu terus diganti, bentuk makanan dibuat semakin menarik, bahkan orang tua terkadang harus mengejar anak sambil membawa sendok. Tidak jarang waktu dan tenaga terkuras, sementara makanan yang sudah disiapkan justru berakhir terbuang. Padahal, semakin besar tekanan yang diberikan saat makan, semakin mungkin anak mengasosiasikan kegiatan makan dengan pengalaman yang tidak menyenangkan.

Pendekatan yang mulai diperhatikan adalah membangun jadwal makan yang teratur dengan memberikan jeda yang cukup di antara waktu makan. Anak tidak harus terus-menerus ditawari makanan setiap kali menolak satu suapan. Setelah satu sesi makan selesai, orang tua dapat menunggu sampai jadwal makan atau selingan berikutnya. 

Jarak sekitar dua hingga tiga jam dapat digunakan sebagai kerangka pengaturan waktu makan, disesuaikan dengan usia dan kebutuhan anak. Di antara waktu tersebut, air putih dapat diberikan untuk memenuhi kebutuhan cairan, tanpa terus-menerus menawarkan makanan atau minuman yang mengenyangkan. Dengan demikian, anak memiliki kesempatan mengenali kembali sinyal lapar dan kenyangnya.

Prinsip tersebut bukan berarti anak sengaja dibiarkan kelaparan atau dihukum karena tidak mau makan. Jeda makan merupakan bagian dari pembentukan rutinitas, bukan bentuk pemaksaan baru. Pemberian susu, buah, maupun makanan selingan tetap perlu diatur dalam jadwal yang sesuai dengan usia dan kebutuhan gizinya. 

Khusus bayi yang masih mendapatkan ASI atau susu formula, kebutuhan susunya tetap harus dipenuhi dan tidak boleh dibatasi hanya demi mengejar rasa lapar. Orang tua juga perlu memahami bahwa kebutuhan makan setiap anak berbeda. Pengaturan jeda tidak boleh diterapkan secara kaku dengan mengabaikan kondisi kesehatan, pertumbuhan, dan kebutuhan individual anak.

Hal penting lainnya adalah membangun suasana makan yang menyenangkan. Anak perlu diberi kesempatan mengenali makanan, memegang sendok, merasakan tekstur, dan belajar makan secara mandiri sesuai kemampuan perkembangannya. Orang tua dapat menawarkan makanan dengan sabar, tetapi tidak perlu memaksa ketika anak menunjukkan tanda kenyang atau penolakan. 

Waktu makan sebaiknya dibatasi sekitar 30 menit, tanpa gangguan televisi, gawai, atau aktivitas bermain yang mengalihkan perhatian. Kebiasaan makan bersama keluarga juga dapat menjadi contoh yang baik bagi anak. Anak belajar bahwa makan merupakan kebutuhan tubuh sekaligus kegiatan sosial yang menyenangkan.

Pendekatan ini sejalan dengan prinsip responsive feeding yang direkomendasikan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Prinsip tersebut menekankan pentingnya kepekaan orang tua terhadap tanda lapar dan kenyang anak, sekaligus memberi kesempatan kepada anak untuk belajar mengatur perilaku makannya sendiri.

Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) juga menekankan pentingnya aturan makan, jadwal teratur, durasi makan yang terbatas, serta larangan memaksa anak. Artinya, keberhasilan pemberian MPASI tidak hanya diukur dari berapa banyak makanan yang berhasil masuk ke mulut anak, tetapi juga dari proses pembentukan perilaku makan yang sehat.

Perubahan pola asuh ini mengingatkan bahwa tidak semua persoalan anak harus diselesaikan dengan semakin banyaknya intervensi orang tua. Ada kalanya pendekatan yang lebih sederhana justru memberikan hasil yang lebih baik. Makanan bergizi, jadwal teratur, suasana nyaman, dan kesabaran menjadi bagian penting dalam mendampingi anak belajar makan dan membangun kebiasaan baik yang akan dibawanya hingga dewasa. (Yun)

Tinggalkan Komentar

Kirim Komentar