TERAS

PULANG

  • Administrator
  • Senin, 21 September 2026
  • menit membaca
  • 21x baca
PULANG

PULANG

YOGYAKARTA, jogja-ngangkring.com — Manusia datang ke dunia tanpa membawa apa-apa, untuk suatu saat kembali ke tempat asalnya, jika perjalanan hidupnya dijalani dengan baik. Ironisnya, manusia sering begitu sibuk memperindah tempat persinggahan, sampai lupa mempersiapkan tempat kepulangan.

Al-Qur’an telah mengingatkan, “Setiap yang bernyawa akan merasakan mati. Hanya pada hari Kiamat sajalah diberikan dengan sempurna balasanmu. Siapa yang dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, sungguh dia memperoleh kemenangan. Kehidupan dunia hanyalah kesenangan yang memperdaya.” (QS. Ali ‘Imran: 185).

Kematian bukan kemungkinan. Ia adalah kepastian. Yang tidak pasti hanyalah kapan waktunya tiba dan dalam keadaan seperti apa seseorang menjumpainya. Karena itu, yang seharusnya membuat gentar bukan kematian, melainkan kehidupan yang tidak memiliki bekal untuk menghadapinya.

Ada manusia yang bertahun-tahun mengumpulkan dunia, tetapi tidak sempat mengumpulkan amal. Ada yang pandai membangun rumah, tetapi lupa membangun hubungan dengan Tuhan. Ada yang begitu sibuk mengejar pengakuan manusia, sampai lupa bahwa kelak ia akan berdiri sendiri di hadapan Penguasa seluruh kehidupan.

Kematian datang tanpa peduli apakah makhluk-Nya siap. Ia tidak menunggu utang lunas, anak-anak dewasa, pekerjaan selesai, atau cita-cita tercapai. Ia tidak mengenal kata nanti. Bagi kematian, nanti adalah kata yang sepenuhnya berada di luar kuasa manusia.

Kehidupan sesungguhnya bukan tentang bagaimana menghindari kematian. Tidak ada jalan untuk itu. Kehidupan adalah tentang bagaimana membuat perjalanan menuju kematian menjadi perjalanan yang layak dikenang dan kepulangan yang layak disambut.

Mengingat kematian dapat membuat seseorang lebih hidup. Ia belajar bahwa tidak semua pertengkaran perlu dipertahankan. Tidak semua luka harus dibalas. Tidak semua ambisi harus dimenangkan. Ada saatnya manusia berhenti mengejar sesuatu yang fana dan mulai bertanya kepada dirinya sendiri: apa yang akan dibawa ketika semua yang dimiliki harus ditinggalkan?

Harta akan tinggal. Jabatan akan berakhir. Rumah akan dihuni orang lain. Kendaraan akan berpindah tangan. Nama perlahan dilupakan. Bahkan tubuh yang selama ini dijaga dan dibanggakan pun pada akhirnya kembali menjadi tanah.

Yang tersisa hanya jejak. Kebaikan yang pernah diberikan. Doa yang pernah dipanjatkan. Ilmu yang pernah dibagikan. Tangan yang pernah menolong. Hati yang pernah dijaga agar tidak menyakiti. Anak-anak yang tumbuh dengan nilai-nilai kebaikan. Dan amal yang tetap mengalir ketika pemiliknya sudah tidak lagi berada di dunia.

Kematian bukan tragedi tapi sebuah kepulangan. Bukan pulang ke rumah yang pernah dibangun dengan batu dan semen, melainkan pulang kepada Pemilik kehidupan itu sendiri. Perjalanan pulang berarti selesai menjalankan amanah, selesai berjuang. 

Setiap orang sedang berjalan menuju satu pintu yang sama. Siapkan bekal terbaik.  Perjalanan yang indah, pulang kepada Dia yang sejak awal memberi kehidupan, dan kepada-Nya pula seluruh kehidupan akan kembali. (*)

Tinggalkan Komentar

Kirim Komentar

Berita Terkait

SALING MEMBAHAGIAKAN

SALING MEMBAHAGIAKAN

  • Rabu, 16 September 2026
DANAIS BUKAN UANG KERATON

DANAIS BUKAN UANG KERATON

  • Senin, 14 September 2026
TERHORMAT MESKI TAK LAGI BERSUAMI

TERHORMAT MESKI TAK LAGI BERSUAMI

  • Minggu, 13 September 2026