TERAS

DAMAI IS PEACE LENGKAPI MONUMEN RUDAL MERAPI

  • Administrator
  • Rabu, 28 Oktober 2026
  • menit membaca
  • 17x baca
DAMAI IS PEACE LENGKAPI MONUMEN RUDAL MERAPI

DAMAI IS PEACE LENGKAPI MONUMEN RUDAL MERAPI

SLEMAN, jogja-ngangkring.com — Monumen Rudal Merapi di Kinahrejo, Cangkringan, Sleman, kini dilengkapi tulisan Damai Is Peace. Warna merah pada kata Damai melambangkan keberanian untuk mengambil keputusan dan memperjuangkan sesuatu yang dianggap penting. 

Peresmian kelengkapan monumen dilaksanakan di Warung Rudal Merapi milik Pak Narno, Pelemsari, Kinahrejo, Rabu (28/10/2026), pukul 10.00 WIB.  Acara yang juga dihadiri warga setempat ini diharapkan dapat berkontribusi positif bagi pariwisata dan perekonomian Kinahrejo.

Kegiatan yang bertepatan dengan Hari Sumpah Pemuda ini juga diisi doa bersama dan tumpengan yang dipimpin Juru Kunci Gunung Merapi saat ini, Asihono (dikenal sebagai Mbah Asih atau Lurah Surakso Sihono). Tumpeng yang disiapkan terdiri atas nasi kuning, ayam jago, gudangan, mi, tempe, dan telur dadar. Tradisi tersebut menjadi bagian dari rasa syukur atas perjalanan panjang monumen sekaligus harapan agar pesan yang dibawanya terus terjaga.

Setya Nusantara, alumni SMA Negeri 6 Yogyakarta angkatan 1982, hadir sebagai saksi sejarah pembangunan Monumen Rudal Merapi. Ia menjelaskan, gagasan pembangunan monumen berangkat dari keprihatinan terhadap perang dan dampaknya bagi kehidupan. Konflik Malvinas antara Argentina dan Inggris pada 1982 menjadi salah satu latar yang mendorong para pecinta alam Yogyakarta memikirkan cara menyampaikan pesan perdamaian melalui sebuah monumen.

Gagasan tersebut kemudian diwujudkan oleh Muda Wijaya Hiking Club (MWHC), komunitas pecinta alam SMA Negeri 6 Yogyakarta. Monumen yang didirikan pada 1984 itu selanjutnya mengalami relokasi pada 2017. 

Pemilihan rudal sebagai simbol  mengandung ironi yang disengaja. Benda yang identik dengan persenjataan dan kehancuran itu justru dijadikan pengingat bahwa perang dapat membinasakan alam beserta seluruh kehidupan di dalamnya. Monumen ini mengajak masyarakat memandang perdamaian sebagai tanggung jawab bersama, terlebih ketika berbagai konflik masih terjadi di sejumlah belahan dunia.

Melalui peresmian monumen ini MWHC berharap pesan perdamaian yang pernah digagas para pecinta alam Yogyakarta tetap hidup lintas generasi. Dari Kinahrejo, pesan itu diharapkan terus mengingatkan masyarakat akan pentingnya menjaga perdamaian di Indonesia dan dunia. (Tor)

Tinggalkan Komentar

Kirim Komentar