TERAS

Biosaka, Ikhtiar Petani Membaca Ulang Bahasa Alam

  • Administrator
  • Selasa, 20 Januari 2026
  • menit membaca
  • 77x baca
Biosaka, Ikhtiar Petani Membaca Ulang Bahasa Alam

Biosaka, Ikhtiar Petani Membaca Ulang Bahasa Alam

Sleman, jogja-ngangkring.com - Di tengah meningkatnya ketergantungan pertanian pada pupuk dan pestisida kimia, muncul sebuah solusi sederhana dari petani Indonesia yang menawarkan cara pandang berbeda. Praktik itu dikenal sebagai Biosaka, singkatan dari Bio Sistem Alam Kembali ke Alam. Biosaka bukan sekadar ramuan, melainkan pengetahuan lokal yang lahir dari pengalaman panjang petani dalam membaca dan bekerja bersama alam.

Biosaka dipopulerkan oleh Muhammad Anshar, petani padi asal Blitar, Jawa Timur, sejak sekitar tahun 2010. Berangkat dari kegelisahan melihat tanah yang kian lelah dan tanaman yang makin rapuh akibat input kimia berlebihan, Anshar mengembangkan Biosaka sebagai upaya memulihkan daya hidup tanaman tanpa menambah ketergantungan baru. Ia bukan peneliti laboratorium atau akademisi, melainkan petani yang belajar langsung dari sawahnya sendiri.

Secara sederhana, Biosaka merupakan cairan hasil perasan berbagai tanaman lokal—rumput liar, daun-daunan, atau tanaman yang tumbuh di sekitar lahan. Tanaman tersebut dipilih bukan karena kandungan haranya, melainkan karena daya adaptasinya. Dalam logika Biosaka, tanaman liar yang mampu bertahan di lingkungan keras menyimpan sinyal biologis yang dapat memicu ketahanan dan keseimbangan tanaman budidaya.

Karena itu Biosaka tidak diposisikan sebagai pupuk atau pestisida. Ia tidak memberi nutrisi secara langsung, melainkan berfungsi sebagai pemantik atau elicitor yang merangsang respons fisiologis tanaman agar mampu menyerap hara lebih optimal, menumbuhkan akar lebih kuat, dan meningkatkan ketahanan terhadap stres lingkungan. 

Aplikasinya dilakukan dengan dosis sangat kecil—bahkan hanya tetesan—dan disemprotkan pada fase tertentu pertumbuhan tanaman.

Pengalaman lapangan menunjukkan hasil yang tidak instan, tetapi relatif konsisten. Tanaman yang diaplikasi Biosaka cenderung lebih segar, batang lebih kokoh, daun tidak mudah menguning, dan lebih tahan terhadap perubahan cuaca maupun serangan penyakit. Hasil panen tidak selalu melonjak drastis, namun biaya produksi menurun, tanah lebih terjaga, dan ketergantungan pada input kimia berkurang.

Di titik inilah Biosaka melampaui fungsi teknisnya. Ia menjadi simbol kemandirian petani. Bahan bakunya tersedia di sekitar sawah, prosesnya dapat dilakukan sendiri, dan pengetahuannya berkembang secara kontekstual sesuai ekosistem lokal. Tidak ada formulasi baku yang kaku, sekaligus tidak ada ketergantungan pada produk industri.

Pendekatan inilah yang kemudian menarik perhatian kalangan pelaku usaha. Himpunan Pengusaha Pribumi Indonesia (HIPPI) Daerah Istimewa Yogyakarta menggelar pelatihan Biosaka pada Senin, 29 Januari 2026, bertempat di Resto Sekarwangi, Gamping, Sleman. Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya memperkenalkan praktik pertanian ramah lingkungan yang aplikatif bagi petani dan pelaku usaha sektor pangan.

Ketua HIPPI DIY, Arya Ariyanto, menilai Biosaka relevan dengan tantangan pertanian yang dihadapi petani sehari-hari. "Pelatihan ini penting karena Biosaka menawarkan metode yang lebih ramah lingkungan, praktis, dan hemat biaya," ujar Arya.  

Meski demikian, Biosaka juga memicu perdebatan. Sebagian kalangan akademik menilai klaimnya masih memerlukan pembuktian ilmiah yang lebih kuat, terutama terkait istilah seperti “energi alam” dan “sinyal biologis”. Kritik ini penting, namun para pendukung Biosaka menegaskan bahwa pengalaman empiris petani merupakan bentuk pengetahuan yang layak dihargai dan dikaji, bukan disisihkan.

Biosaka bukan klaim keajaiban. Ia adalah kritik halus terhadap model pertanian ekstraktif yang memandang alam semata sebagai objek eksploitasi. Dalam Biosaka, alam diajak berdialog, bukan dipaksa. Di tengah krisis iklim, degradasi tanah, dan beban ekonomi petani yang terus meningkat, Biosaka mengingatkan bahwa solusi tidak selalu lahir dari teknologi mahal, melainkan dari kesabaran, pengamatan, dan keberanian untuk kembali mempercayai alam. (Yun)

Tinggalkan Komentar

Kirim Komentar