TERAS

Ramadan, Tahan Diri Bukan Perbanyak Konsumsi

  • Administrator
  • Jumat, 13 Maret 2026
  • menit membaca
  • 10x baca
Ramadan, Tahan Diri Bukan Perbanyak Konsumsi

Ramadan, Tahan Diri Bukan Perbanyak Konsumsi

 

Yogyakarta, jogja-ngangkring.com – Salah satu esensi penting Ramadan adalah menahan diri. Bukan hanya menahan lapar dan dahaga, tetapi juga menahan dorongan untuk berlebihan. Dalam kehidupan sehari-hari, salah satu bentuk pengendalian diri yang sering terlupakan adalah dalam urusan makanan.

Ironis, ketika Ramadan tiba, makanan yang disiapkan justru sering kali jauh lebih banyak dibanding hari-hari biasa. Meja berbuka dipenuhi berbagai menu. Ada minuman manis, gorengan, aneka lauk, hingga makanan penutup. Niatnya tentu baik, ingin menyenangkan keluarga setelah seharian berpuasa. Namun pada kenyataannya, tidak semua makanan itu habis dimakan. Sebagian akhirnya terbuang.

 

Membuang makanan bukan sekadar soal sisa di piring. Di balik satu hidangan yang tersaji di meja makan terdapat perjalanan panjang. Ada petani yang menanam, peternak yang memelihara, nelayan yang menangkap ikan, pedagang yang mendistribusikan, hingga tenaga dan waktu yang digunakan untuk mengolah bahan makanan di dapur rumah tangga. Ketika makanan dibuang, yang tersia-siakan bukan hanya bahan pangan, tetapi juga kerja keras banyak pihak, sekaligus waktu, tenaga, dan biaya yang telah dikeluarkan.

 

Al-Qur’an dalam Al-Qur'an mengingatkan melalui Surah Al-A'raf ayat 31: “Makan dan minumlah, tetapi jangan berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.” Ayat ini menjadi pengingat bahwa konsumsi harus berada dalam batas kewajaran.

 

Laporan Food and Agriculture Organization (FAO) dan kajian dari Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) menunjukkan bahwa Indonesia termasuk salah satu negara dengan tingkat food loss and waste yang tinggi. Studi Bappenas memperkirakan jumlah makanan yang terbuang di Indonesia mencapai puluhan juta ton setiap tahun. Jika dihitung per orang, jumlahnya bisa mencapai ratusan kilogram makanan yang terbuang setiap tahun.

Angka ini menunjukkan bahwa persoalan sisa makanan bukan sekadar kebiasaan kecil di rumah tangga, tetapi telah menjadi persoalan sosial dan ekonomi yang besar.

 

Ramadan menjadi momentum yang tepat untuk memperbaiki cara pandang terhadap makanan. Memasak dan menyiapkan hidangan secukupnya.

Memasak sesuai kebutuhan membawa banyak manfaat praktis. Pertama, waktu di dapur menjadi lebih efisien. Tidak sedikit orang yang menghabiskan berjam-jam menyiapkan berbagai menu berbuka. Padahal jika makanan dimasak secukupnya untuk satu kali makan, prosesnya jauh lebih sederhana dan cepat.

Kedua, tenaga juga lebih hemat. Menyiapkan terlalu banyak menu membuat pekerjaan dapur menjadi berat dan melelahkan. Dengan menu yang sederhana dan porsi yang tepat, energi yang dikeluarkan jauh lebih ringan. Waktu yang tersisa pun dapat dimanfaatkan untuk ibadah atau berkumpul dengan keluarga.

Ketiga, tentu saja lebih hemat biaya. Ketika bahan makanan dibeli dan dimasak sesuai kebutuhan, pengeluaran rumah tangga menjadi lebih terkontrol. Tidak ada bahan yang terbuang percuma, dan tidak ada makanan yang berakhir di tempat sampah.

Selain itu, memasak secukupnya juga membantu menjaga kualitas makanan. Hidangan yang dimasak dalam porsi kecil biasanya lebih segar dan lebih nikmat dibanding makanan yang dimasak terlalu banyak lalu disimpan atau dipanaskan berulang kali.

 

Ramadan bukan bulan untuk memperbanyak hidangan. Ramadan harusnya memperdalam rasa syukur. Salah satu bentuk syukur yang paling sederhana adalah menghargai makanan dengan tidak membuangnya. Dengan memasak secukupnya, kita bukan hanya menjaga makanan agar tidak terbuang, tetapi juga sekaligus menghemat waktu, tenaga, dan biaya. Sebuah praktik sederhana yang sejalan dengan semangat pengendalian diri yang diajarkan Ramadan. (Yun)

Tinggalkan Komentar

Kirim Komentar