Imam Yudotomo: Ideologi Tak Pernah Mati

Yogyakarta, jogja-ngangkring.com — Buku "Sosial Demokrasi", kumpulan tulisan karya almarhum Imam Yudotomo dibahas di tengah situasi demokrasi yang kehilangan arah. Diskusi buku yang digelar Jumat (19/12/2025) di Ruang Literasi Kaliurang menunjukkan bahwa ideologi bukan beban masa lalu, melainkan pijakan untuk memperjuangkan keadilan hari ini. Diskusi dimoderatori Ons Untoro dan menghadirkan Ahmad Taufan Damanik serta Abidin Fikri. Keduanya sepakat, Imam Yudotomo adalah sosok yang konsisten menghidupi sosialisme sebagai jalan etis menuju demokrasi dan keadilan sosial.
Ahmad Taufan Damanik menyebut, Imam sangat mencintai generasi muda. Sosialisme yang diajarkannya bersifat anti-penindasan, anti- penjajahan, dan berpihak pada hak asasi manusia. “Sosialisme Imam adalah sosialisme untuk keadilan dan demokrasi,” kata Taufan. Ia mengingat pernyataan Imam ketika disebut sangat Marxis. Jawabannya tegas: “Sebelum jadi sosialis, harus Marxis.” Namun Marxisme itu tidak berhenti pada teori. Imam menekankan pendidikan politik rakyat sebagai fondasi perubahan sosial. Ia bahkan menyusun kurikulum pendidikan politik agar rakyat mampu membaca kontradiksi sosial sebagai sumber energi perubahan. Menurut Taufan, Imam selalu menegaskan pentingnya ideologi sebagai pijakan hidup. Ideologi tidak boleh hilang, dan pikiran tidak boleh berhenti. Meski begitu, Imam tidak mengajarkan sikap ekstrem. Ia menolak hedonisme, tetapi juga tidak anti kenikmatan dunia selama dijalani secara proporsional.

Abidin Fikri menyoroti sikap egaliter Imam Yudotomo. “Mas Imam tidak pernah dijajah oleh pemikiran,” ujarnya. Sikap ini membuat Imam terbuka terhadap dialog, perdebatan ideologi, dan pembelajaran terus-menerus. Imam, kata Abidin, tidak berhenti pada diskusi. Ia terlibat langsung dalam demonstrasi, pendidikan politik, dan pendampingan gerakan sosial. Sosialisme baginya bukan wacana, tetapi praktik. Meski sadar Indonesia berjalan di jalur kapitalisme, Imam tetap konsisten menyuarakan sosialisme sebagai orientasi moral dan politik.
Imam Yudotomo (1941–2015) dikenal sebagai aktivis sosialis yang memperjuangkan sosial-demokrasi dengan merujuk pemikiran Sutan Sjahrir. Ia juga menerjemahkan karya Thomas Meyer tentang sosial-demokrasi, menjembatani teori dan praktik dalam konteks Indonesia. Di tengah ketimpangan ekonomi dan krisis ekologis, pemikiran Imam kembali menemukan relevansinya. Bukan sebagai doktrin, tetapi sebagai ajakan untuk berpikir jernih, bersikap adil, dan terus bergerak. Seperti keyakinannya, ideologi tak pernah mati selama pikiran tetap hidup. (Tor)
Tinggalkan Komentar
Kirim Komentar