Ngopi Bareng Seniman Senior Jogja, Joko Pranoto Dorong Seni Jadi Industri yang Menyejahterakan

YOGYAKARTA, jogja-ngangkring.com — Di tengah kesibukannya menyiapkan pagelaran MORSA 2026, produser dan penulis sastra Joko Pranoto menyempatkan diri bersilaturahmi dengan sejumlah seniman senior Yogyakarta dalam acara "ngopi bareng" di Hotel Brongto Yogyakarta, Rabu (17/6/2026) malam.
Pertemuan yang berlangsung hangat dan penuh keakraban itu difasilitasi oleh Aswarun Barera. Menurutnya, forum santai tersebut penting untuk memperkenalkan Joko Pranoto kepada para pelaku lintas seni di Yogyakarta sekaligus membuka ruang dialog tentang masa depan seni pertunjukan di Indonesia.
Malam itu hadir sejumlah seniman senior dari berbagai disiplin seni, diantaranya Eko Winardi, Godot, Hangno, Meritz Hindra, Wahyu Nugroho, Bambang Oeban, Alvin Bin Adam, Deddy Ratmoyo, Supeno, Saly, dan sejumlah pelaku seni lainnya.
Dalam pengantarnya, Mahmoud El Qadrian memperkenalkan Joko Pranoto sebagai seorang pengusaha yang juga aktif menulis karya sastra dan tengah menggagas pengembangan industri pertunjukan berbasis kolaborasi lintas cabang seni melalui MORSA. Gagasan tersebut langsung memantik diskusi yang hidup dan penuh antusiasme.
Joko Pranoto menegaskan bahwa seniman perlu berani melakukan perubahan dalam cara mengelola karya maupun organisasi seni. "Seniman harus berani mengelola diri secara profesional. Karya seni tidak hanya memiliki nilai moral dan budaya, tetapi juga harus mampu memberikan nilai ekonomi agar seniman dapat hidup layak dari hasil karyanya," ujarnya.
Gagasan tersebut mendapat apresiasi dari Eko Winardi, aktor sekaligus sutradara Teater Dinasti. Menurutnya, pengalaman mengelola pertunjukan teater menunjukkan bahwa dunia seni membutuhkan kemandirian ekonomi.
Ia mencontohkan bagaimana Teater Dinasti selama ini harus berjuang mencari sumber pendanaan untuk setiap pementasan. Menurut Eko, ketergantungan pada bantuan pemerintah tidak cukup untuk menopang keberlangsungan seni pertunjukan. "Seniman harus berani mandiri, berani memproduksi pertunjukan dengan biaya sendiri, dan berani menjual tiket. Di situlah profesionalisme diuji," katanya.
Senada dengan itu, seniman wayang kontemporer Hangno menilai saat ini diperlukan sebuah wadah yang mampu mempertemukan berbagai cabang seni untuk berkolaborasi, baik dalam proses kreatif maupun pengembangan bisnis seni budaya.
Sementara itu, novelis Saly mengangkat pertanyaan menarik tentang kemungkinan Indonesia, khususnya Yogyakarta, menghadirkan pertunjukan berbasis cerita sejarah dan legenda rakyat dengan kemasan modern seperti yang berkembang di Singapura maupun Korea Selatan.
Menurutnya, banyak kisah sejarah dan budaya Nusantara yang memiliki potensi besar menjadi tontonan berkualitas internasional yang diminati wisatawan dan masyarakat luas.
Menanggapi hal tersebut, Bambang Oeban selaku sutradara MORSA 2026 menjelaskan bahwa pagelaran MORSA akan menampilkan konsep kolaboratif yang mempertemukan berbagai disiplin seni dalam satu panggung besar. Sejumlah tokoh seni dan budaya nasional dijadwalkan terlibat, antara lain Sutardji Calzoum Bachri, Jose Rizal Manua, Clara Sinta Rendra, Anto Narasoma, Alvin Bin Adam, Orkestra ISI Yogyakarta, serta akademisi dan budayawan seperti Prof. M. Baiquni dan Prof. Yudiaryani. Informasi mengenai MORSA sebagai ruang kolaborasi lintas seni dan upaya membangun ekosistem seni yang berkelanjutan juga telah disampaikan dalam berbagai forum publik sebelumnya.
Dalam kesempatan itu, Supeno, mantan dosen Teater ISI Yogyakarta, menekankan pentingnya pengelolaan pertunjukan secara profesional. Menurutnya, keberhasilan industri seni sangat bergantung pada kemampuan membangun kerja sama yang sehat antara seniman, pengelola pertunjukan, dan pelaku usaha.
Deddy Ratmoyo menambahkan bahwa organisasi yang kuat merupakan fondasi penting bagi lahirnya pertunjukan seni yang profesional dan berkelanjutan.
Aswarun Barera juga menyoroti perlunya tata kelola yang lebih baik dalam industri hiburan, khususnya teater. Ia berharap seni pertunjukan dapat berkembang sebagaimana industri musik yang mampu memberikan manfaat ekonomi bagi para pelakunya.

Menjelang akhir diskusi, Joko Pranoto mengemukakan gagasan tentang pentingnya penghargaan terhadap karya intelektual para seniman.Menurutnya, naskah teater memiliki nilai ekonomi yang dapat dikembangkan melalui sistem hak cipta maupun mekanisme lelang karya sehingga memberikan manfaat langsung bagi penulisnya.
Sebagai penutup, Joko Pranoto mengundang seluruh peserta yang hadir untuk menyaksikan pagelaran MORSA Event 2026 yang akan digelar Selasa (23/6/26) di Purawisata Amphitheater Jl. Brigjend Katamsa Yogyakarta. Ia berharap MORSA tidak hanya menjadi sebuah pertunjukan seni, tetapi juga menjadi langkah awal membangun ekosistem seni budaya yang profesional, kolaboratif, dan mampu menyejahterakan para pelakunya. Gagasan tersebut sejalan dengan visi MORSA yang selama ini mendorong seni dan sastra menjadi bagian dari industri kreatif yang berkelanjutan. (Tor)
Tinggalkan Komentar
Kirim Komentar