“Horeg”, Ketika Ingatan tentang Merapi Menjelma Menjadi Karya Seni

YOGYAKARTA, jogja-ngangkring.com — Pengalaman menyaksikan erupsi Gunung Merapi dapat meninggalkan kesan mendalam bagi siapa pun yang melihatnya secara langsung. Pengalaman itulah yang menjadi sumber inspirasi perupa Chamit Arang dalam menciptakan lukisan berjudul "Horeg". Karya berukuran 40 x 40 sentimeter yang dibuat menggunakan media akrilik di atas kanvas tersebut dipamerkan dalam pameran seni rupa Keindahan Dalam Ketidaksempurnaan. Pameran itu menjadi bagian dari peresmian Ary's Wabi Sabi Co & Cafe di Ary's Garden Hotel Yogyakarta, Jalan Suryodiningratan Nomor 29, Mantrijeron, Yogyakarta. Pameran akan berlangsung hingga 15 Agustus 2026. Chamit Arang menuturkan bahwa lukisan tersebut berangkat dari momen ketika dirinya menyaksikan langsung aktivitas vulkanik Merapi pada 12 Maret 2023. Saat itu ia berada di kawasan Pakem, Sleman, ketika guguran awan panas meluncur dari puncak gunung dan membentuk kepulan besar yang terlihat jelas dari kejauhan. Menurut Chamit, peristiwa tersebut menghadirkan pengalaman visual yang sangat kuat. Dinamika alam yang berlangsung di hadapannya meninggalkan kesan mendalam dan terus tersimpan dalam ingatannya hingga kemudian diwujudkan melalui medium seni lukis. Peristiwa erupsi kala itu juga membawa dampak ke sejumlah wilayah di sekitar Merapi. Abu vulkanik yang terbawa angin membuat beberapa kawasan mengalami hujan abu. Di wilayah Muntilan, Magelang, suasana siang hari bahkan berubah redup akibat tebalnya material vulkanik yang menyelimuti udara. Melalui Horeg, Chamit mencoba menangkap energi letusan tersebut dalam bentuk visual. Sapuan warna dan komposisi yang dihadirkan menggambarkan kekuatan alam yang bergerak liar sekaligus menghadirkan daya tarik estetis. Judul Horeg dipilih untuk merepresentasikan getaran, dentuman, dan daya guncang yang identik dengan peristiwa erupsi. Lukisan ini tidak sekadar menjadi dokumentasi artistik atas sebuah kejadian alam. Karya tersebut juga mengajak penonton merenungkan relasi manusia dengan alam yang selama ini menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat lereng Merapi. Dalam pandangan Chamit, gunung tidak hanya menghadirkan ancaman, tetapi juga memberi kehidupan bagi lingkungan sekitarnya. Pameran Keindahan Dalam Ketidaksempurnaan sendiri menampilkan berbagai karya yang berangkat dari pengalaman pribadi, refleksi sosial, hingga pemikiran filosofis para perupa. Tema yang diangkat mengajak masyarakat melihat bahwa nilai keindahan sering kali lahir dari proses perubahan, ketidaksempurnaan, dan pengalaman hidup yang kompleks. Melalui karya Horeg, Chamit Arang memperlihatkan bahwa sebuah peristiwa alam tidak berhenti ketika letusan usai. Ingatan tentangnya dapat terus hidup dan menemukan bentuk baru melalui karya seni, menjadikan kanvas sebagai ruang untuk merekam sekaligus merawat jejak peristiwa yang pernah mengguncang kehidupan manusia. (Tor/*)
Tinggalkan Komentar
Kirim Komentar