Ki Mujar Sangkerta Hidupkan Wayang Milenium dalam MORSA Event 2026

YOGYAKARTA, jogja-ngangkring.com — Seniman dan perupa tradisi Ki Mujar Sangkerta tengah menyiapkan karya seni instalasi bambu dan Wayang Milenium Wae untuk menyemarakkan MORSA Event 2026 (Musik Tradisional, Orkestra, Sastra Nusantara) yang akan digelar di Amphitheater Purawisata Yogyakarta pada 23 Juni 2026 mendatang.
Karya instalasi tersebut memadukan anyaman bambu, jerami, serta ornamen lukis berwarna-warni yang membentuk figur-figur imajiner berukuran monumental. Bagi Ki Mujar, bambu bukan sekadar material artistik, melainkan representasi kebudayaan Nusantara yang menyimpan jejak panjang peradaban masyarakat Indonesia.
Melalui susunan bilah-bilah bambu yang dirangkai menjadi bentuk figuratif tiga dimensi, ia menghadirkan dialog antara tradisi dan modernitas. Pendekatan tersebut menjadi ciri khas perjalanan artistiknya yang selama ini banyak mengeksplorasi perpaduan antara seni rupa, pertunjukan, dan nilai-nilai budaya lokal.
Salah satu elemen utama dalam karya tersebut adalah Wayang Milenium Wae, sebuah konsep kreatif yang lahir dari upaya mendekatkan kembali seni tradisi kepada generasi muda. Berbeda dengan wayang klasik yang terikat pada pakem tertentu, Wayang Milenium menawarkan ruang interpretasi yang lebih terbuka tanpa meninggalkan akar tradisinya.
Bentuk-bentuk wayang yang ditampilkan tidak sepenuhnya mengikuti karakter pewayangan konvensional. Sosoknya tampil lebih bebas, ekspresif, dan monumental, bahkan mendekati karya instalasi kontemporer. Pemilihan warna-warna cerah menjadi simbol bahwa tradisi dapat hadir dalam wajah baru yang relevan dengan perkembangan zaman.
Pandangan tersebut sejalan dengan perjalanan berkesenian Ki Mujar yang selama ini tumbuh dari lingkungan seni rakyat Yogyakarta. Ia dikenal sebagai seniman yang aktif mengembangkan kesenian berbasis komunitas dan ruang publik. Baginya, seni tidak hanya hidup di panggung pertunjukan atau galeri, tetapi juga harus hadir di tengah masyarakat sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari.
Karakter itu terlihat dari konsistensinya menggunakan material lokal seperti bambu, kayu, jerami, dan berbagai unsur alam lainnya. Selain memiliki nilai estetika, material tersebut dipilih sebagai bentuk penghormatan terhadap pengetahuan tradisional masyarakat Nusantara yang selama berabad-abad hidup berdampingan dengan alam.
Dalam filosofi Ki Mujar, bambu memiliki makna yang mendalam. Sifatnya yang lentur namun kuat menjadi simbol kebudayaan Indonesia yang mampu beradaptasi dengan perubahan zaman tanpa kehilangan identitasnya. Nilai inilah yang terus dihadirkan dalam berbagai karya seni yang diciptakannya.
Kehadiran instalasi bambu dan Wayang Milenium karya Ki Mujar menjadi bagian penting dari lanskap artistik MORSA Event 2026. Perhelatan budaya tersebut dirancang sebagai ruang kolaborasi lintas disiplin yang mempertemukan akademisi, budayawan, seniman, penyair, musisi orkestra, pembaca puisi, pelaku teater, paduan suara, dan pegiat kebudayaan dalam satu panggung bersama.
Mengusung semangat Panji Pagar Betis Nusantara, MORSA Event 2026 menghadirkan perpaduan musik tradisional, orkestra, sastra, monolog, multimedia budaya Nusantara, audio visual, marching band, hingga berbagai pertunjukan seni tradisional Indonesia. Dalam konteks itulah instalasi karya Ki Mujar tidak hanya berfungsi sebagai latar visual, melainkan juga sebagai simbol perjumpaan berbagai ekspresi budaya Nusantara.
Di tengah arus globalisasi yang terus berkembang, karya tersebut menjadi pengingat bahwa kebudayaan bukan sekadar warisan masa lalu, melainkan energi hidup yang terus bergerak, ditafsirkan ulang, dan diwariskan kepada generasi berikutnya. Melalui bambu, jerami, dan Wayang Milenium, Ki Mujar menghadirkan ruang refleksi tentang identitas, memori kolektif, dan masa depan kebudayaan Indonesia.
Pengerjaan instalasi ini dilakukan secara kolaboratif bersama Mas Eko, Pak Telo Hartono, Mbak Ratih, Mbak Ana, serta dua generasi muda, Abi dan Alisia. Keterlibatan lintas generasi tersebut menunjukkan bahwa proses pewarisan nilai budaya tidak hanya berlangsung melalui pertunjukan, tetapi juga melalui kerja kreatif bersama dalam menciptakan karya seni.
Nantinya, ketika instalasi itu berdiri di Amphitheater Purawisata pada malam MORSA Event 2026, publik tidak hanya menyaksikan sebuah karya visual monumental. Mereka juga akan menyaksikan bagaimana tradisi menemukan bentuk-bentuk baru untuk tetap hidup, berkembang, dan berdialog dengan zaman. (Tor)
Tinggalkan Komentar
Kirim Komentar