AirNav Indonesia: Langit Parangtritis Aman bagi Penerbangan selama JIKF 2026

BANTUL, jogja-ngangkring.com – Ribuan layang-layang dari berbagai bentuk dan warna menghiasi langit Pantai Parangkusumo, Bantul, dalam penyelenggaraan Jogja International Kite Festival (JIKF) 2026 pada 11–12 Juli 2026. Festival yang diikuti peserta dari 17 negara tersebut tidak hanya menghadirkan atraksi budaya dan wisata, tetapi juga menunjukkan pentingnya sinergi berbagai pihak dalam menjaga keselamatan ruang udara.
Di balik suksesnya penyelenggaraan festival internasional itu, AirNav Indonesia memegang peranan penting untuk memastikan aktivitas layang-layang tidak mengganggu lalu lintas penerbangan sipil maupun militer. Melalui koordinasi yang dilakukan sejak tahap persiapan, seluruh rangkaian kegiatan dapat berlangsung aman dan sesuai ketentuan keselamatan penerbangan.
Sebagai lembaga penyelenggara pelayanan navigasi penerbangan nasional, AirNav Indonesia bertugas memberikan pelayanan lalu lintas penerbangan, komunikasi, navigasi, hingga pengamatan penerbangan, sekaligus menjamin keselamatan penggunaan ruang udara. Tanggung jawab tersebut menjadi semakin penting ketika ruang udara dimanfaatkan untuk kegiatan berskala internasional seperti festival layang-layang.
Direktur Keselamatan dan Keamanan AirNav Indonesia, Nurcahyo Utomo, mengatakan AirNav memiliki tanggung jawab untuk mendukung kegiatan masyarakat yang menggunakan ruang udara tanpa mengesampingkan aspek keselamatan.
"AirNav berkewajiban mendukung kegiatan layang-layang karena sama-sama menggunakan ruang udara. Tugas kami adalah menjamin keselamatan keduanya, baik layang-layang maupun pesawat udara, melalui pengaturan dan pemisahan ruang udara," ujarnya, Minggu (13/7).
Menurutnya, selama festival berlangsung AirNav melakukan pengaturan jalur penerbangan agar pesawat tidak melintasi kawasan penyelenggaraan. Apabila terdapat penerbangan yang harus melewati area tersebut, pengaturan dilakukan berdasarkan batas ketinggian tertentu sehingga aktivitas penerbangan dan festival tetap dapat berjalan secara bersamaan tanpa saling mengganggu.
Selain pengaturan ruang udara, AirNav juga melaksanakan safety assessment sebelum kegiatan dimulai. Kajian tersebut dilakukan untuk mengidentifikasi potensi risiko sekaligus memastikan seluruh aktivitas memenuhi standar keselamatan penerbangan yang berlaku.
Sebelum pelaksanaan festival, panitia JIKF 2026 mengajukan permohonan penggunaan ruang udara kepada AirNav Indonesia. Dalam proses tersebut, panitia menyampaikan berbagai informasi teknis, mulai dari lokasi kegiatan, jadwal pelaksanaan, estimasi ketinggian layang-layang, luas area penerbangan, hingga rencana penggunaan drone untuk dokumentasi.
Data tersebut menjadi dasar bagi AirNav Indonesia dalam melakukan analisis keselamatan dan menentukan langkah mitigasi sehingga kegiatan festival dapat berlangsung tanpa mengganggu operasional penerbangan.
Sementara itu, Humas sekaligus Koordinator Perizinan JIKF 2026, Sustono Hurihandoko, menjelaskan bahwa rekomendasi dari AirNav Indonesia merupakan salah satu persyaratan penting dalam penyelenggaraan festival layang-layang.
"Penyelenggaraan Jogja International Kite Festival membutuhkan rekomendasi dari AirNav Indonesia karena kegiatan ini memanfaatkan ruang udara. Rekomendasi tersebut menjadi salah satu syarat yang kemudian kami teruskan dalam proses perizinan kepada kepolisian, mulai dari Polsek, Polres, Polda, hingga Mabes Polri," jelasnya.
Ia menambahkan, koordinasi dengan AirNav telah dilakukan jauh sebelum festival digelar. Panitia juga wajib menyerahkan titik koordinat lokasi secara rinci beserta jadwal pelaksanaan sebagai dasar pelaksanaan kajian keselamatan.
"Dalam prosesnya kami juga harus menyampaikan titik koordinat lokasi penyelenggaraan secara rinci, termasuk jadwal pelaksanaan festival pada 11–12 Juli 2026. Data tersebut menjadi dasar bagi AirNav untuk melakukan kajian keselamatan sebelum mengeluarkan rekomendasi penggunaan ruang udara," katanya.
Kolaborasi antara penyelenggara JIKF 2026 dan AirNav Indonesia menjadi bukti bahwa kesuksesan sebuah event internasional tidak hanya ditentukan oleh kemeriahan atraksi yang disuguhkan. Di balik langit Parangtritis yang dipenuhi layang-layang dari berbagai negara, terdapat sistem pengelolaan ruang udara yang bekerja memastikan seluruh aktivitas berlangsung aman, tertib, dan sesuai standar keselamatan penerbangan.
Sinergi tersebut sekaligus memperlihatkan bahwa promosi budaya dan pariwisata dapat berjalan beriringan dengan komitmen terhadap keselamatan, sehingga Jogja International Kite Festival terus menjadi agenda internasional yang tidak hanya memukau, tetapi juga profesional dalam penyelenggaraannya. (tor/*)
Tinggalkan Komentar
Kirim Komentar