TERAS

Paseduluran Trah Hamengkubuwono II Gelar Saresehan Tosan Aji dan Jamasan

  • Administrator
  • Senin, 13 Juli 2026
  • menit membaca
  • 10x baca
Paseduluran Trah Hamengkubuwono II Gelar Saresehan Tosan Aji dan Jamasan

Paseduluran Trah Hamengkubuwono II Gelar Sarasehan Tosan Aji dan Jamasan

BANTUL, jogja-ngangkring.com – Aroma dupa yang menguar pelan berpadu dengan lantunan kidung Jawa memenuhi halaman Omah Pleret, Pangkuran, Kaputren Pleret, Bantul, Sabtu (11/7). Suasana hening namun khidmat mengiringi langkah para pembawa pusaka yang berjalan perlahan dalam arak-arakan pembuka Sarasehan Tosan Aji dan Jamasan yang diselenggarakan Paseduluran Trah Hamengkubuwono II.

Prosesi itu bukan sekadar seremoni. Air dari tujuh sumber mata air dibawa bersama pataka dan pusaka-pusaka keluarga, diiringi satu bregada prajurit yang menambah nuansa agung. Kidung pamuji yang dilantunkan Lembaga Kebudayaan Jawa Sekar Pangawikan Yogyakarta di bawah pimpinan Siswo Pangarso seolah mengajak setiap peserta memasuki ruang perenungan tentang makna warisan budaya Jawa.

Ketua panitia R. Sudaryaka menyambut ratusan peserta yang hadir, termasuk tokoh nasional Muchdi Purwopranjono, yang diterima oleh tuan rumah KPH Nurdiantoro Darmaningrat. Sejak pagi hingga sore, para peserta mengikuti seluruh rangkaian kegiatan dengan penuh perhatian.

Mengangkat tema "Nguri-uri Pusaka Adiluhung: Menanamkan Nilai Filosofis Pusaka kepada Generasi Muda", sarasehan menghadirkan R. Agus Parmadi (Ki Cokro) dari Sanggar Budaya Condrowinoto, R. Bambang Putranto dari Rumah Pusaka Banyumas, serta R. Carwudi Ing Ngalogo dari Fajar Utama.

Bagi masyarakat Jawa, pusaka bukan sekadar benda antik atau koleksi bernilai sejarah. Di balik sebilah keris tersimpan nilai, etika, perjalanan spiritual, hingga identitas budaya yang diwariskan lintas generasi. Karena itulah tradisi jamasan tetap dipelihara sebagai bentuk penghormatan terhadap pusaka sekaligus kepada para leluhur yang mewariskannya.

Dalam sarasehan dijelaskan bahwa jamasan bukan hanya kegiatan membersihkan keris atau benda pusaka. Prosesi tersebut mengandung makna merawat warisan budaya, menjaga nilai-nilai luhur, sekaligus mengingat jasa para pendahulu. Berbagai perlengkapan jamasan, tata cara pelaksanaan, hingga tujuan filosofisnya dipaparkan kepada peserta, terutama generasi muda yang mulai tertarik mempelajari dunia tosan aji.

Forum itu juga menjadi ruang edukasi praktis. Salah satu materi yang menarik perhatian adalah cara membuka warangka keris dengan benar. Peserta diajarkan agar bilah keris diarahkan ke atas ketika dikeluarkan dari sarungnya. Selain menghormati pusaka, cara tersebut juga memiliki alasan keselamatan karena sebagian keris tradisional mengandung unsur arsenik pada bilahnya. 

Diskusi berkembang pada makna keris dalam kehidupan masyarakat Jawa. Para narasumber menjelaskan bahwa bagi orang Jawa, keris merupakan bagian dari jati diri. Dalam falsafah Jawa dikenal lima unsur penting kehidupan, yakni wisma (rumah), garwa (pasangan hidup), turangga (kendaraan), kukila (burung atau hewan peliharaan), dan curiga (keris). Di antara kelima unsur tersebut, keris menjadi simbol kehormatan, tanggung jawab, sekaligus karakter pemiliknya.

Keris memperoleh kedudukan istimewa karena dibuat oleh seorang empu melalui proses panjang dengan pengetahuan metalurgi, spiritualitas, dan seni yang tinggi. Karena itu, nilai sebuah keris tidak hanya diukur dari usia atau keindahan pamornya, melainkan juga dari filosofi yang dikandungnya.

Semangat menjaga pusaka itu juga tidak dapat dilepaskan dari sosok Sri Sultan Hamengkubuwono II, tokoh yang dikenal sebagai penjaga tradisi sekaligus pembela martabat Keraton Yogyakarta. Dalam sejarah, Hamengkubuwono II meninggalkan jejak penting di bidang pertahanan, sastra, maupun kebudayaan.

Ia memperkuat korps keprajuritan Keraton dengan perlengkapan yang lebih baik, membangun sistem pertahanan, serta mewariskan karya-karya sastra seperti Babad Nitik Ngayogya dan Babad Mangkubumi yang mengisahkan perjuangan berdirinya Kasultanan Yogyakarta. Selain itu terdapat pula karya sastra seperti Serat Baron Sekender dan Serat Suryaraja, yang kemudian menjadi bagian dari pusaka intelektual Keraton.

Warisan kebudayaan lainnya tampak pada pengembangan wayang kulit bertema kepahlawanan dan penciptaan lakon wayang orang Jayapusaka. Tokoh Bima dipilih sebagai figur utama yang mencerminkan keberanian, kejujuran, ketegasan, dan kesetiaan pada kebenaran—nilai-nilai yang juga disimbolkan oleh sebilah keris.

Saat ini nama Hamengkubuwono II tengah diusulkan sebagai Pahlawan Nasional. Pengusulan tersebut diinisiasi Pemerintah Kabupaten Wonosobo dan mendapat dukungan akademisi, keturunan Hamengkubuwono II, serta berbagai elemen masyarakat.

Menurut Hary Sutrasno dari Seksi Dokumentasi, kegiatan seperti sarasehan budaya dan jamasan pusaka akan terus menjadi agenda Paseduluran Trah Hamengkubuwono II. Tujuannya bukan sekadar melestarikan tradisi, melainkan juga memperkuat ikatan kekeluargaan sekaligus menanamkan kesadaran bahwa pusaka adalah media pewarisan nilai, bukan benda yang disakralkan secara berlebihan.

Menjelang sore, rangkaian acara ditutup dengan ramah tamah dan foto bersama. Di tengah perubahan zaman, kegiatan semacam ini menjadi pengingat bahwa kebudayaan hanya akan tetap hidup apabila diwariskan, dipelajari, dan dimaknai oleh generasi penerus. Sebab, merawat pusaka sesungguhnya adalah merawat ingatan kolektif tentang jati diri dan peradaban bangsa. (Tor)

Tinggalkan Komentar

Kirim Komentar