"Membaca Angin #2" Kegelisahan Ekologis dalam Patung Rusa Karya Tri Suharyanto
YOGYAKARTA, jogja-ngangkring.com — Di tengah meningkatnya krisis lingkungan yang terjadi di berbagai belahan dunia, seniman patung kontemporer asal Bantul, Tri Suharyanto, menghadirkan sebuah karya yang mengajak publik untuk kembali mendengarkan bahasa alam. Karya berjudul Membaca Angin #2 menjadi refleksi artistik atas hubungan manusia dengan lingkungan yang semakin renggang akibat dominasi teknologi, industrialisasi, dan eksploitasi sumber daya alam.
Patung berukuran panjang 270 sentimeter, lebar 130 sentimeter, dan tinggi 160 sentimeter tersebut dibangun dari perpaduan material logam stainless steel, logam kuningan, besi baja, serta beton. Sosok rusa atau antelop dipilih sebagai figur utama yang mewakili kewaspadaan, kepekaan, dan kemampuan bertahan hidup di tengah perubahan alam yang tidak menentu.
Bagi Tri Suharyanto, rusa bukan sekadar satwa liar. Di alam bebas, rusa memiliki kemampuan membaca arah angin untuk mengenali ancaman yang datang. Angin menjadi media yang membawa berbagai tanda kehidupan sekaligus peringatan akan bahaya. Kemampuan membaca angin itulah yang kemudian diangkat menjadi metafora tentang pentingnya kepekaan makhluk hidup terhadap perubahan lingkungan.
"Alam selalu memberi tanda. Persoalannya, apakah manusia masih mampu membaca tanda-tanda itu sebelum semuanya terlambat?" demikian pertanyaan yang ingin dihadirkan melalui karya tersebut.
Kegelisahan ekologis menjadi titik berangkat penciptaan Membaca Angin #2. Tri melihat kerusakan lingkungan terus berlangsung akibat keserakahan manusia. Hutan dibuka tanpa kendali, sungai dipenuhi limbah, udara semakin tercemar, sementara ruang hidup satwa liar semakin menyempit. Dalam kondisi demikian, satwa menjadi kelompok yang paling awal merasakan dampak dari kerusakan ekosistem yang diciptakan manusia sendiri.
Gagasan tersebut diterjemahkan ke dalam bentuk visual yang unik. Tubuh rusa dibangun menyerupai organisme mekanik. Rangkaian roda, pelat logam, sambungan baja, dan detail-detail industri menyatu membentuk anatomi satwa yang kokoh sekaligus rapuh. Perpaduan unsur organik dan mekanik itu menghadirkan dialog antara alam dan peradaban modern yang terus saling berhadapan.
Meski tampak kuat karena disusun dari material logam, ekspresi tubuh rusa tetap menunjukkan kewaspadaan. Seolah-olah ia sedang mendengarkan hembusan angin untuk mencari arah keselamatan di tengah dunia yang terus berubah. Kesan tersebut menjadi simbol bagaimana makhluk hidup dipaksa beradaptasi dengan ancaman yang sebagian besar berasal dari aktivitas manusia.
Karya ini dikerjakan selama sekitar lima bulan sepanjang tahun 2026. Proses kreatif yang panjang tersebut bukan hanya pekerjaan teknis mengolah logam, tetapi juga perjalanan perenungan tentang masa depan hubungan manusia dengan alam. Dalam pandangan Tri, seni bukan sekadar objek estetis, melainkan medium refleksi sosial dan ekologis.
Nama Tri Suharyanto sendiri bukan sosok asing dalam dunia seni patung Indonesia. Seniman yang bermukim di Sonopakis, Kasihan, Bantul, Yogyakarta, ini dikenal melalui karya-karya instalasi monumental berbahan logam dan material daur ulang. Namanya mendapat perhatian publik secara nasional melalui karya Patung Naga Jalur Sutra yang pernah dipasang di area kedatangan Yogyakarta International Airport (YIA). Karya tersebut menjadi perbincangan luas karena ukurannya yang monumental sekaligus gagasan filosofis yang melatarbelakanginya.
Ketertarikan Tri terhadap seni patung tumbuh sejak usia muda. Ia memilih medium patung karena memberinya ruang yang lebih luas untuk menyatukan gagasan, ruang, material, dan pengalaman batin ke dalam bentuk tiga dimensi. Baginya, patung tidak hanya dilihat, tetapi juga dapat dihadirkan sebagai pengalaman ruang yang memungkinkan publik berinteraksi secara lebih dekat dengan ide yang ingin disampaikan.
Dalam perjalanan keseniannya, Tri dikenal konsisten mengeksplorasi elemen-elemen alam seperti api, air, bumi, dan angin. Tema-tema tersebut kemudian dipadukan dengan nilai-nilai budaya Nusantara, spiritualitas, sejarah, dan isu-isu sosial kontemporer. Karyanya sering memanfaatkan material bekas atau logam daur ulang sebagai bentuk penghormatan terhadap lingkungan sekaligus kritik terhadap budaya konsumsi modern. Bahkan, sebagian besar material pada karya-karya monumentalnya berasal dari barang rongsokan yang diolah kembali menjadi karya seni.
Bagi Tri Suharyanto, proses berkesenian merupakan bagian dari "laku urip" atau perjalanan hidup yang menyatukan manusia dengan semesta. Karena itu, karya-karyanya tidak hanya berbicara tentang bentuk dan estetika, tetapi juga menghadirkan renungan tentang hubungan manusia dengan alam, sejarah, dan masa depan.
Selain berkarya, Tri juga aktif mendukung ekosistem seni rupa lokal. Ia turut menggagas platform "Bank Karya" sebagai ruang solidaritas bagi para perupa yang menghadapi keterbatasan modal, bahan baku, maupun alat produksi. Baginya, kemajuan seni tidak dapat dibangun secara individual, melainkan melalui ekosistem yang saling menguatkan.
Melalui Membaca Angin #2, Tri Suharyanto kembali menunjukkan bahwa seni patung dapat menjadi medium yang kuat untuk menyampaikan pesan-pesan kemanusiaan dan lingkungan. Sosok rusa yang berdiri waspada dalam tubuh mekanik itu menjadi pengingat bahwa alam sebenarnya terus berbicara kepada manusia. Yang menjadi pertanyaan adalah apakah manusia masih memiliki kepekaan untuk mendengarkannya. (Yul)
Tinggalkan Komentar
Kirim Komentar