TERAS

Sinergi Akademik dan Hidupkan Tradisi Keris di Yogyakarta

  • Administrator
  • Minggu, 03 Mei 2026
  • menit membaca
  • 9x baca
Sinergi Akademik dan Hidupkan Tradisi Keris di Yogyakarta

Sinergi Akademik dan Hidupkan Tradisi Keris di Yogyakarta

Bantul, jogja-ngangkring.com (02/05/26) -  Upaya pelestarian keris sebagai warisan budaya tak benda terus menemukan bentuk baru melalui kolaborasi antara dunia akademik dan komunitas praktik. Hal ini terlihat dalam kunjungan akademik mahasiswa dan dosen Program Studi Senjata Tradisional Keris, Fakultas Seni Rupa dan Desain Institut Seni Indonesia Surakarta ke Sanggar Keris Mataram, Kamis (30/4/2026).

Kegiatan yang berlangsung di Bangunjiwo, Kasihan, Bantul ini menjadi ruang interaksi langsung antara teori yang dipelajari di kampus dengan praktik keseharian di lapangan. Rombongan yang terdiri dari dosen dan sekitar 20 mahasiswa tersebut mengikuti serangkaian aktivitas yang memperlihatkan proses perkerisan secara menyeluruh. Di lokasi, peserta tidak hanya mengamati, tetapi juga mempelajari secara langsung tahapan pembuatan keris—mulai dari pengolahan bahan logam di besalen, pemaknaan filosofi dalam bentuk bilah, hingga teknik perawatan dan penyajian keris sebagai artefak budaya. Fasilitas yang dimiliki sanggar, seperti museum, galeri, perpustakaan, hingga studio kreatif, dimanfaatkan sebagai media pembelajaran terpadu. 

Ketua Program Studi Keris ISI Surakarta, M. Ubaidul Izza, menyampaikan bahwa kegiatan luar ruang semacam ini merupakan bagian penting dalam kurikulum pendidikan. Menurutnya, mahasiswa perlu memahami kondisi riil di lapangan sebagai bekal menghadapi dunia kerja. Ia menegaskan bahwa peluang karier di bidang perkerisan tidak terbatas pada profesi empu atau perajin. Lulusan juga dapat berkiprah sebagai edukator budaya, kurator, konservator, hingga pelaku industri kreatif berbasis warisan budaya. Dalam kesempatan yang sama, dilakukan penandatanganan kerja sama antara pihak kampus dan Sanggar Keris Mataram. Kolaborasi ini diharapkan dapat memperkuat pendidikan berbasis praktik sekaligus mendorong regenerasi pelaku budaya di bidang perkerisan.

Ketua Sanggar Keris Mataram, Ki Nurjianto, menilai sinergi dengan dunia akademik menjadi langkah strategis dalam menjaga keberlanjutan tradisi. Ia menyebut sanggar yang dipimpinnya sebagai “laboratorium hidup” yang mengintegrasikan proses penciptaan, edukasi, hingga promosi budaya dalam satu ekosistem. Menurutnya, tantangan utama pelestarian keris saat ini terletak pada regenerasi dan minimnya pemahaman masyarakat terhadap nilai budaya yang terkandung di dalamnya. Oleh karena itu, keterlibatan generasi muda menjadi kunci.

Pandangan serupa disampaikan oleh dosen pendamping, Dr. Kuntadi Wasi Darmojo. Ia menilai keberadaan Sanggar Keris Mataram dapat menjadi model pengelolaan budaya yang tidak hanya berfokus pada kualitas karya, tetapi juga keberlanjutan ekosistemnya.

Sementara itu, praktisi keris Ki Arya Pandhu menambahkan bahwa dunia perkerisan kini memiliki spektrum yang lebih luas. Selain fungsi tradisional, keris juga mulai masuk dalam ranah industri kreatif, pariwisata, hingga media publikasi.

Kegiatan yang berlangsung selama sekitar tiga jam ini menjadi contoh konkret bagaimana kolaborasi lintas sektor mampu membuka peluang baru dalam pelestarian budaya. Tidak hanya mempertemukan akademisi dan praktisi, tetapi juga membangun kesadaran kolektif akan pentingnya menjaga identitas budaya di tengah arus modernisasi.

Melalui pendekatan yang adaptif dan kolaboratif, keris tidak lagi dipandang semata sebagai benda pusaka masa lalu, melainkan sebagai bagian dari dinamika budaya yang terus berkembang dan relevan dengan kehidupan masa kini. (Yun)

Tags: Keris

Tinggalkan Komentar

Kirim Komentar