TERAS

Utamakan Adab, Bukan Sekedar Kepintaran

  • Administrator
  • Jumat, 01 Mei 2026
  • menit membaca
  • 27x baca
Utamakan Adab, Bukan Sekedar Kepintaran

Utamakan Adab, Bukan Sekadar Kepintaran

Yogyakarta, jogja-ngangkring.com (01/05/26) - Ada pergeseran dalam cara memaknai pendidikan. Kita terlalu sibuk mengejar kecerdasan, sampai lupa pada esensi untuk apa semua kepintaran itu. Sekolah dipuja karena mampu melahirkan angka-angka tinggi, gelar akademik, dan kesiapan kerja. Namun di balik semua itu, apakah pendidikan benar-benar melahirkan manusia yang lebih baik, terabaikan.

Realitas menunjukkan keganjilan. Banyak orang berpengetahuan luas tetapi mudah tergelincir dalam ketidakjujuran. Tidak sedikit yang piawai berbicara tentang etika, tetapi gagal mempraktikkannya. Dunia ini sebenarnya tidak kekurangan orang pintar. Yang langka adalah manusia yang tahu bagaimana menggunakan kepintarannya dengan benar.

Dalam khazanah pemikiran Islam persoalan ini sudah lama dibahas. Syed Muhammad Naquib al-Attas menegaskan bahwa inti pendidikan adalah ta’dib, yakni pembentukan adab. Dalam Aims and Objectives of Islamic Education, ia menjelaskan bahwa pendidikan tidak berhenti pada transfer ilmu, melainkan harus melahirkan manusia yang baik. Adab bukan sekadar sopan santun, tetapi kemampuan menempatkan segala sesuatu secara tepat tentang posisi Tuhan, ilmu, akal, dan tanggung jawab manusia. Ketika adab hilang, ilmu kehilangan arah, dan manusia kehilangan pijakan moralnya.

Teladan paling nyata dari pendidikan berbasis adab dapat dilihat pada diri Nabi Muhammad. Beliau tidak hanya menyampaikan ajaran tetapi menghadirkannya dalam kehidupan. Kejujuran, kasih sayang, dan keadilan bukan sekadar konsep, melainkan perilaku yang terus menerus ditunjukkan. Dari situlah akhlak tumbuh. Bukan dari teori, tetapi dari keteladanan yang hidup.

Adab tidak bisa dibentuk hanya melalui bacaan atau kurikulum. Ia lahir dari lingkungan dan perjumpaan. Para ulama terdahulu sangat memahami hal ini. Abdullah ibn al-Mubarak bahkan menempatkan pembelajaran adab lebih dahulu daripada ilmu. Sebab apa yang dilihat dan dirasakan seseorang setiap hari akan membentuk cara ia berpikir dan bersikap jauh lebih dalam daripada apa yang sekadar ia dengar.

Dalam konteks lokal, tradisi “ngenger” menjadi contoh bagaimana pendidikan dipahami sebagai proses pembentukan karakter. Anak-anak tidak hanya diajari pengetahuan, tetapi ditempa melalui kedekatan dengan sosok yang berintegritas. Ini menunjukkan bahwa pendidikan sejati bukan soal fasilitas, melainkan kualitas teladan. Tanpa itu, kemajuan justru melahirkan paradoks: pengetahuan bertambah, tetapi kebijaksanaan tidak ikut tumbuh.

Saatnya  kita mengubah cara pandang. Pendidikan bukan sekadar jalan untuk menjadi pintar, tetapi jalan untuk menjadi manusia. Sebab yang menentukan arah peradaban bukan seberapa tinggi pengetahuan kita, melainkan seberapa dalam adab yang kita miliki. Dunia bisa saja dipenuhi orang cerdas tetapi tanpa adab sehingga kecerdasanpun tak lagi bermakna (Yun)

Tags: Adab

Tinggalkan Komentar

Kirim Komentar