IKPNI DIY Gelar Ngobras Bukber Peringati Serangan Umum 1 Maret 1949

Yogyakarta, jogja-ngangkring.com — Ikatan Keluarga Pahlawan Nasional Indonesia (IKPNI) Koordinator Wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta memperingati peristiwa Serangan Umum 1 Maret 1949 melalui forum “Ngobrol Santai dan Buka Bersama” (Ngobras Bukber) yang digelar di Gedung Pertemuan Taman Makam Pahlawan Nasional Kusumanegara, Sabtu (1/3). Peringatan ini merujuk pada Keputusan Presiden Nomor 2 Tahun 2022 yang menetapkan 1 Maret sebagai Hari Penegakan Kedaulatan Negara. Momentum tersebut dimaknai sebagai upaya memperkuat literasi sejarah sekaligus meneguhkan komitmen terhadap cita-cita kemerdekaan.
Kegiatan dihadiri Kepala Dinas Sosial DIY Endang Patmintarsih, kalangan mahasiswa dan pemuda, tokoh masyarakat, serta keluarga besar IKPNI. Sebagai organisasi yang menaungi ahli waris Pahlawan Nasional, IKPNI memikul mandat sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2009 tentang Gelar, Tanda Jasa, dan Tanda Kehormatan, khususnya Pasal 34 ayat (1), untuk menjaga nama baik pahlawan serta melestarikan nilai-nilai kepahlawanan.
Acara diawali dengan menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya secara khidmat, dilanjutkan paparan narasumber dan diskusi yang dipandu Widiyastuti.
Dua pembicara utama hadir, yakni GBPH Prabukusumo, putra dari Hamengkubuwono IX, serta Ir. Teguh Sudirman, putra Jenderal Sudirman.
Dalam paparannya, Prabukusumo menekankan sinergi antara Sultan, Keraton, TNI, dan rakyat dalam menyukseskan Serangan Umum 1 Maret 1949. Ia menjelaskan bahwa strategi tersebut tidak hanya berdimensi militer, tetapi juga memiliki dampak psikologis dan diplomatik yang signifikan, termasuk menguatnya dukungan internasional kepada Indonesia serta meningkatnya tekanan terhadap Belanda untuk menyerahkan kedaulatan. Ia juga mengungkapkan bahwa publikasi yang lebih menonjolkan peran Letkol Soeharto kala itu merupakan bagian dari strategi untuk melindungi Keraton sebagai benteng perjuangan.
Sementara itu, Teguh Sudirman mengisahkan sisi personal perjuangan para tokoh pada masa itu. Menurutnya, pengorbanan menjadi keniscayaan: hidup dalam keterbatasan, berpisah dari keluarga, hingga minim fasilitas kesehatan, bahkan dalam kondisi sakit. Ia berharap karakter rela berkorban dan mendahulukan kepentingan bangsa tersebut dapat menjadi teladan bagi generasi kini.

Respons positif datang dari peserta muda. Frida dari IKPNI Muda menilai persatuan antara pemimpin dan rakyat dalam momentum 1 Maret menjadi pelajaran penting untuk memperkuat kedaulatan di berbagai bidang pada masa kini. Senada, Ratri dari keluarga Suryopranoto menyebut peristiwa tersebut sebagai perjuangan multidimensi—militer, psikologis, dan diplomasi—serta berharap forum serupa lebih sering melibatkan generasi muda.
Acara ditutup dengan doa untuk kemaslahatan bangsa dan buka puasa bersama. Nampak hadir keturunan keluarga pahlawan nasional antara lain Noor Rochman (KH Fakhruddin), Afnan Hadikusumo (Ki Bagus Hadikusumo), GPH Indro Kusumo (Paku Alam VIII), Suryo Putro (Pangeran Diponegoro), Sigid M (Wirjopranoto), Indah SA (Ki Suryo Pranoto), Haryo (Brigjen Katamso), Ganis Priyono (Kol. Soegiono), Widyawati (Ki Hajar Dewantara), Achmad Djam”an (KHA Dahlan), Hary Sutrasno (Kasman Singodimedjo), Tofani Pane (Prof. Lafran pane), Heru S (Nyi Ageng Serang), KP Eri Ratmanto (Pangeran Sambernyawa), Henny Meka (Prof, Herman Johanes), Windriati (Pakubuwono X).
Melalui forum reflektif ini, IKPNI DIY menegaskan kembali pentingnya menjaga memori kolektif perjuangan sebagai fondasi penguatan kedaulatan negara di masa kini dan mendatang. (Yun)
Tinggalkan Komentar
Kirim Komentar