TERAS

Ngangsu Kaweruh, Kelompok Tani Kertek dan Kalikajar Belajar dari Mekar Wangi Banjarnegara

  • Administrator
  • Senin, 31 Agustus 2026
  • menit membaca
  • 36x baca
Ngangsu Kaweruh, Kelompok Tani Kertek dan Kalikajar Belajar dari Mekar Wangi Banjarnegara

Ngangsu Kaweruh, Kelompok Tani Kertek dan Kalikajar Belajar dari Mekar Wangi Banjarnegara

WONOSOBO, jogja-ngangkring.com — Kemajuan sebuah kelompok tani tidak hanya ditentukan oleh luas lahan dan hasil panen, tetapi juga oleh kemampuan anggotanya membangun usaha bersama. Hal itulah yang ingin dipelajari sejumlah perwakilan kelompok tani dari Kecamatan Kertek dan Kalikajar, Wonosobo, saat melakukan studi banding ke Kelompok Tani Mekar Wangi di Desa Penusupan, Kecamatan Pejawaran, Kabupaten Banjarnegara, Minggu (30/8/2026). Kegiatan yang menjadi ajang ngangsu kaweruh tersebut diawali dengan kunjungan ke lahan pertanian dan green house tanaman kentang di Desa Sumber, Kecamatan Batur, Banjarnegara. Para peserta melihat secara langsung pengelolaan budidaya kentang, termasuk pemupukan yang baik untuk meningkatkan produktivitas. Dengan pengelolaan yang tepat, lahan kentang tersebut mampu menghasilkan hingga 35 ton per hektare dengan kualitas buah yang unggul. Setelah dari Batur, rombongan melanjutkan perjalanan menuju home base Kelompok Tani Mekar Wangi di Desa Penusupan. Kelompok tani yang kini beranggotakan 20 petani aktif tersebut dinilai telah berkembang cukup pesat. Tidak hanya bergerak dalam budidaya pertanian, kelompok ini juga telah memiliki sejumlah usaha dan aset dengan nilai mencapai miliaran rupiah.

Ketua Kelompok Tani Mekar Wangi, Sugeng Santoso, mengatakan kelompok yang dipimpinnya saat ini mengembangkan berbagai kegiatan, mulai dari toko pertanian, usaha transportasi, budidaya palawija dan hortikultura hingga perdagangan hasil panen.

"Kami sampaikan terima kasih dan alhamdulillah atas kunjungan teman-teman dari Wonosobo. Kami sangat bahagia atas kunjungan ini sebagai ajang untuk menyambung tali silaturahmi. Semoga teman-teman dari Wonosobo ke depan sukses dan bisa lebih maju dari Kelompok Tani Mekar Wangi," katanya.

Menurut Sugeng, perkembangan kelompok selama ini tidak terlepas dari modal utama berupa kepercayaan antaranggota, kesamaan semangat, tanggung jawab, gotong royong dan kerja sama.

"Kami punya prinsip, hidupkan kelompok, jangan hidup dari kelompok. Semua kegiatan untuk kemajuan kelompok, bukan untuk kepentingan pribadi anggota," ujarnya.

Sekretaris Kelompok Tani Mekar Wangi, Junaedi, menjelaskan kelompok tersebut berdiri pada 1 Juni 1999. Pendirian kelompok diprakarsai sejumlah petani dan tokoh masyarakat setempat dengan tujuan mendorong kemajuan sektor pertanian di desa. Pada awal berdiri, Kelompok Tani Mekar Wangi memiliki 28 anggota. Seiring perjalanan waktu, jumlah anggota yang aktif kini sebanyak 20 petani.

Pendamping kelompok tani Kertek dan Kalikajar, Umar Yusuf, mengatakan studi banding tersebut dilakukan untuk mendorong kelompok tani di Wonosobo agar berkembang lebih maju dan memiliki kemandirian usaha seperti Kelompok Tani Mekar Wangi. Menurutnya, sebagian besar kelompok tani di wilayah Kertek dan Kalikajar masih berada pada tahap membangun kebersamaan dan belum memiliki pengembangan usaha sebesar Mekar Wangi.

"Kelompok Tani Mekar Wangi ini sudah cukup besar dan punya banyak aset. Sedangkan kelompok tani di Wonosobo masih belum ada yang seperti ini. Baru pada tahap kumpul-kumpul. Dengan studi banding ke sini, teman-teman bisa pulang membawa ilmu dan mengadopsinya. Semoga ke depan mereka bisa menjadi besar," harapnya.

Umar menambahkan, ilmu yang diperoleh tidak harus langsung diwujudkan dalam bentuk usaha besar. Hal terpenting adalah informasi dan pengalaman dari kunjungan tersebut dapat dibagikan kepada anggota kelompok lainnya, kemudian diterjemahkan menjadi program yang sesuai dengan kondisi masing-masing kelompok tani.

"Ilmu yang baru didapat bisa diterapkan di kelompok tani masing-masing. Jadi hasil studi banding ini tidak berhenti di sini," katanya.

Perwakilan Kelompok Tani Pranoto Tani Rahayu, Pagerotan, Pagerejo, Kertek, Suyitno, mengaku terharu sekaligus bangga dapat mengikuti kunjungan tersebut. Selama ini, ia mengaku belum pernah melihat kelompok tani yang berkembang sebesar dan semaju Mekar Wangi.

"Kami sangat salut dan kagum dengan Kelompok Tani Mekar Wangi ini. Bagi kami, kelompok ini bisa menjadi contoh praktik baik bagi petani di Wonosobo," katanya.

Suyitno juga menyampaikan apresiasi kepada Wakil Bupati Wonosobo Amir Husain yang telah memberikan dukungan terhadap kelompok tani di Kertek dan Kalikajar untuk melakukan studi banding ke Banjarnegara.

Sementara itu, Penyuluh Pertanian BPP Kertomartani Kertek, Samsul Kafi, menegaskan bahwa proses belajar bagi petani tidak pernah berhenti. Perkembangan teknologi pertanian yang semakin pesat menuntut petani untuk terus memperbarui pengetahuan dan keterampilannya.

"Belajar tidak ada habisnya. Semakin banyak petani belajar, maka semakin maju para petani. Apalagi teknologi sekarang sudah sedemikian majunya, sehingga petani jangan sampai ketinggalan," ujarnya.

Ia menambahkan, upaya memajukan kelompok tani sejalan dengan tujuan pemerintah untuk meningkatkan kesejahteraan petani sekaligus mewujudkan swasembada pangan yang berkelanjutan. Menurut Samsul, Kelompok Tani Mekar Wangi telah menunjukkan bahwa kelompok tani dapat menjadi wadah pemberdayaan sekaligus membangun kemandirian ekonomi anggotanya.

"Kelompok Tani Mekar Wangi sudah luar biasa karena mampu melakukan pemberdayaan petani setempat. Setelah ini harus ada rencana tindak lanjut," tandasnya.

Studi banding tersebut pun diharapkan menjadi titik awal bagi kelompok tani di Kertek dan Kalikajar untuk mulai menyusun langkah konkret. Pengalaman Mekar Wangi menjadi bahan pembelajaran, sementara penerapannya perlu disesuaikan dengan potensi dan kebutuhan masing-masing kelompok. Dengan demikian, ngangsu kaweruh tidak berhenti sebagai perjalanan belajar, tetapi berlanjut menjadi gerakan untuk membangun kelompok tani yang lebih mandiri, produktif dan sejahtera. (*)

Tinggalkan Komentar

Kirim Komentar