Hidupkan Tasawuf sebagai Etika Berorganisasi
Yogyakarta, jogja-ngangkring.com - Setiap organisasi besar akan menghadapi perbedaan pandangan. Perbedaan gagasan, strategi, dan cara memandang persoalan merupakan bagian dari dinamika yang tidak dapat dihindari. Hal yang membedakan satu organisasi dengan organisasi lainnya bukanlah ada atau tidak adanya konflik, melainkan cara setiap anggotanya mengelola perbedaan tersebut. Semakin besar organisasi, semakin besar pula godaan ego, kepentingan, dan perebutan pengaruh.
Nahdlatul Ulama, sebagai organisasi yang berakar kuat pada tradisi pesantren,
memiliki kekayaan khazanah tasawuf yang luar biasa. Para santri sejak lama mempelajari kitab-kitab klasik, seperti Bidayatul Hidayah, Minhajul Abidin, dan Ihya Ulumuddin karya Imam Al-Ghazali; Al-Hikam karya Ibnu Athaillah as-Sakandari; Ar-Risalah al-Qusyairiyah karya Imam Al-Qusyairi; hingga Madarijus Salikin karya Ibnu Qayyim al-Jauziyyah. Kitab-kitab tersebut tidak hanya mengajarkan zikir, wirid, atau laku spiritual, tetapi juga membimbing manusia mengenali dan menaklukkan penyakit hati yang menjadi akar banyak persoalan kehidupan.
Imam Al-Ghazali dalam Ihya Ulumuddin menjelaskan bahwa perjuangan terbesar manusia adalah menaklukkan hawa nafsunya sendiri. Musuh terbesar manusia sering kali bukan kebodohan, melainkan hati yang belum tersucikan. Kesombongan, riya', ujub, hasad, cinta dunia, dan kecintaan yang berlebihan terhadap jabatan dapat menguasai siapa saja, termasuk orang yang memiliki ilmu tinggi.
Ketika setiap orang memulai perjuangan itu dari dirinya, perbedaan tidak lagi menjadi sumber permusuhan. Perbedaan justru menjadi ruang untuk saling melengkapi, saling menguatkan, dan menghadirkan kebijaksanaan. Al-Ghazali menempatkan pembahasan tentang penyucian hati sebagai inti pembinaan seorang muslim. Ilmu yang sejati harus melahirkan kerendahan hati, bukan perasaan paling benar.
Pandangan tersebut sejalan dengan penjelasan Ibnu Qayyim al-Jauziyyah dalam Madarijus Salikin. Ia mengutip perkataan Al-Kinani yang sangat masyhur, "Tasawuf adalah akhlak. Siapa yang lebih baik akhlaknya, maka ia lebih tinggi tasawufnya." Ungkapan itu mengingatkan bahwa ukuran tasawuf bukan terletak pada banyaknya wirid, panjangnya riyadhah, atau luasnya hafalan kitab, melainkan pada kualitas akhlak. Semakin mampu seseorang mengendalikan amarah, menghormati perbedaan, memaafkan, dan merendahkan hati, semakin nyata pula buah tasawuf dalam dirinya.
Kitab Al-Hikam dari Ibnu Athaillah mengajarkan pentingnya melepaskan ketergantungan pada ambisi pribadi dan menyerahkan hasil kepada Allah setelah ikhtiar dilakukan. Nilai ini mengajarkan bahwa seseorang tidak harus memenangkan setiap perbedaan untuk tetap menjaga kehormatan dirinya. Dalam Ar-Risalah al-Qusyairiyah, Imam Al-Qusyairi juga menjelaskan bahwa jalan para sufi dibangun di atas adab sebelum maqam. Artinya, akhlak selalu mendahului kedudukan.
Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di menjelaskan bahwa penyucian jiwa merupakan proses yang terus berlangsung sepanjang hidup. Seseorang perlu membersihkan sifat-sifat tercela dan menggantinya dengan akhlak yang diridai Allah. Tasawuf bukan sekadar pengetahuan, tetapi proses transformasi karakter yang terus-menerus. Nilai ini sangat relevan bagi kehidupan berorganisasi. Setiap musyawarah membutuhkan kerendahan hati. Setiap kepemimpinan memerlukan kemampuan mengendalikan ego. Setiap perbedaan membutuhkan kelapangan dada. Tanpa akhlak, ilmu yang tinggi sekalipun dapat berubah menjadi alat pembenaran diri. Sebaliknya, dengan akhlak yang baik, perbedaan dapat menjadi jalan menuju kebijaksanaan.
Tantangan terbesar hari ini bukanlah kekurangan kitab atau minimnya ulama, melainkan bagaimana menghidupkan kembali nilai-nilai kitab dalam praktik kehidupan sehari-hari. Setiap dinamika organisasi seharusnya menjadi kesempatan untuk menghidupkan kembali nilai-nilai tasawuf dalam tindakan nyata. Tasawuf tidak berhenti di ruang pengajian, tetapi hadir dalam cara bermusyawarah, menerima kritik, menghargai perbedaan, memimpin dengan keteladanan, dan menjaga ukhuwah di tengah berbagai pandangan.
Dinamika yang berkembang di tubuh Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) menjadi pengingat bahwa organisasi keagamaan pun tidak berada di luar hukum sosial itu. Perbedaan pandangan merupakan sesuatu yang wajar. Bahkan, apabila dikelola dengan baik, perbedaan dapat melahirkan pembaruan, memperkaya perspektif, dan memperkuat organisasi. Di situlah tasawuf benar-benar hidup sebagai etika berorganisasi dan menjadi warisan paling berharga yang terus dirawat oleh para ulama. (Tor)
Tinggalkan Komentar
Kirim Komentar