TERAS

Bakdo Kupat, Ruang Sunyi Menata Ulang Diri

  • Administrator
  • Jumat, 27 Maret 2026
  • menit membaca
  • 4x baca
Bakdo Kupat, Ruang Sunyi Menata Ulang Diri

Bakdo Kupat, Ruang Sunyi Menata Ulang Diri

Yogyakarta, jogja-ngangkring.com -  Lebaran di Jawa tak benar-benar selesai saat gema takbir mereda. Ada satu momen yang terasa lebih hening, reflektif, sekaligus mengikat kembali makna kebersamaan yaitu tradisi "Bakdo Kupat". Dilaksanakan sepekan setelah Idulfitri, ia bukan sekadar perayaan lanjutan, melainkan ruang kultural tempat orang Jawa menata ulang diri.

Warga berkumpul, duduk melingkar. Ketupat dan sayur bersantan tersaji di atas tikar atau meja panjang. Doa dipanjatkan, lalu makan bersama. Sederhana, tapi hangat. Secara historis, tradisi ini kerap dikaitkan dengan dakwah Sunan Kalijaga, yang meramu ajaran Islam melalui simbol-simbol lokal. Pendekatan ini membuat agama tumbuh dari keseharian, tidak terasa asing, dan mudah diterima.

Ketupat bukan sekadar makanan. Dalam tafsir Jawa, “kupat” dimaknai sebagai “ngaku lepat”—mengakui kesalahan. Setelah sebulan berpuasa dan melanjutkan puasa Syawal, manusia diajak kembali jujur pada dirinya: apakah masih ada ego yang tersisa, luka yang belum selesai, atau kesalahan yang belum termaafkan? Anyaman janur pada ketupat menyimpan simbol kuat. Rumit, saling silang, penuh simpul—seperti hidup manusia yang tak pernah benar-benar lurus. Namun di dalamnya ada nasi putih yang bersih. Sebuah pesan sederhana bahwa di balik keruwetan, selalu ada peluang untuk kembali jernih. Makna itu berlanjut di meja makan. Sayur santan bukan hanya pelengkap, tetapi juga dimaknai sebagai “pangapunten” permohonan maaf. “Santen” diingat sebagai simbol saling memaafkan. Maka makan bersama bukan sekadar mengenyangkan, melainkan cara halus merajut kembali relasi.

Di wilayah seperti Yogyakarta, Klaten, hingga Kendal, tradisi ini hadir dalam berbagai rupa. Ada yang sederhana lewat selametan di musala, ada pula yang meriah dengan kirab gunungan ketupat. Disusun tinggi, diarak, lalu diperebutkan warga, ritual ini bukan sekadar seremoni, tetapi simbol bahwa rezeki adalah milik bersama.

Lebih jauh, ketupat juga dimaknai dalam kerangka kosmologi Jawa “kiblat papat lima pancer.” Empat arah mata angin dengan satu pusat, mengingatkan bahwa manusia hidup dalam jejaring semesta dengan satu titik kembali, Tuhan.

Di beberapa komunitas, tradisi ini juga menjadi ruang merawat duka. Ia dimaknai sebagai “lebaran” bagi kehilangan, termasuk bagi bayi yang tak sempat lahir. Sebuah bahasa kultural yang memberi tempat bagi rasa yang sering tak terucap.

Di tengah zaman serba cepat, ketika silaturahmi cukup lewat layar, kupatan justru menghadirkan jeda. Orang kembali duduk bersama, saling menatap, dan benar-benar hadir. Bukan sekadar bertukar kata, tetapi merasakan ulang makna kebersamaan.

Pada akhirnya, ini bukan hanya tentang hidangan atau agenda tahunan. Ia adalah cara orang Jawa merawat kesadaran bahwa hidup penuh simpul kesalahan, namun selalu ada kesempatan untuk mengurai dan memperbaikinya. Sebuah pengingat sederhana tentang bagaimana menjadi manusia lagi—dari awal. (Yun)

Tinggalkan Komentar

Kirim Komentar