MENCARI ULAMA AKHIRAT DI TENGAH KRISIS KETELADANAN
Oleh: Yuli Sitor
Yogyakarta, jogja-ngangkring.com - Derasnya arus informasi dan meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap berbagai persoalan keagamaan, umat Islam menghadapi kegelisahan yang tidak ringan. Berulang kali masyarakat dikejutkan oleh berbagai kasus yang melibatkan tokoh agama. Pengasuh pesantren, atau guru mengaji yang justru melakukan perbuatan yang bertentangan dengan ajaran yang mereka sampaikan. Ada yang terseret kasus pelecehan seksual terhadap santri, ada yang menjadikan praktik perdukunan berkedok dzikir dan mujahadah sebagai sarana mencari keuntungan, bahkan ada yang menjanjikan penggandaan uang atau penyelesaian berbagai persoalan dunia dengan cara-cara yang tidak rasional.
Fenomena tersebut tidak hanya melukai korban secara langsung, tetapi juga meruntuhkan kepercayaan masyarakat terhadap lembaga-lembaga pendidikan Islam yang selama ini menjadi benteng moral umat. Ketika agama dijadikan kedok kemaksiatan, masyarakat berhak bertanya: kepada siapa ilmu agama harus dipelajari? Kepada siapa anak-anak harus dititipkan untuk belajar agama dan akhlak?
Pertanyaan ini sangat penting karena tujuan utama belajar agama bukanlah untuk mengejar kemewahan dunia. Pendidikan Islam sejatinya merupakan bekal menuju kehidupan akhirat. Sekolah, madrasah, dan pesantren adalah sarana membentuk manusia yang beriman, berakhlak mulia, dan siap mempertanggungjawabkan hidupnya di hadapan Allah SWT.
Rasulullah SAW menegaskan bahwa salah satu tujuan utama diutusnya beliau adalah untuk menyempurnakan akhlak manusia. Dakwah beliau tidak hanya berupa ceramah dan nasihat, tetapi juga keteladanan hidup. Beliau mengajarkan kejujuran, kasih sayang, keadilan, tanggung jawab, serta penghormatan terhadap martabat manusia. Karena itu, ukuran utama seorang guru agama atau kiai bukan hanya kemampuan berbicara, melainkan kualitas akhlaknya.
Dalam tradisi Islam, akhlak para nabi berdiri di atas empat pilar utama, yaitu siddiq (jujur), amanah (dapat dipercaya), tabligh (menyampaikan kebenaran), dan fathanah (cerdas serta bijaksana). Dari empat pilar itu lahir sifat-sifat luhur seperti rendah hati, penyabar, pemaaf, dermawan, penyantun, dan penuh kasih sayang. Seorang ulama yang baik akan mengajak umat mendekat kepada Allah, bukan mengagungkan dirinya sendiri. Pembicaraannya berisi ilmu, bukan ghibah, fitnah, atau caci maki.
Imam Al-Ghazali dalam kitab Ihya' Ulumiddin memberikan panduan yang sangat relevan untuk membaca fenomena hari ini. Beliau membedakan antara ulama akhirat dan ulama dunia. Ulama akhirat menjadikan ilmu sebagai jalan menuju ridha Allah. Mereka memiliki rasa takut kepada Allah (khasyah), hidup sederhana, tidak diperbudak oleh harta, jabatan, maupun popularitas. Ilmu yang mereka miliki selalu tercermin dalam amal dan akhlaknya.
Sebaliknya, ulama dunia menjadikan agama sebagai alat untuk mengejar kepentingan pribadi. Mereka sibuk mencari pujian, kekayaan, dan kedudukan. Ucapan mereka sering kali berbeda dengan perbuatannya. Mereka pandai berbicara tentang kebaikan, tetapi gagal memberi teladan dalam kehidupan sehari-hari.
Karena itu, masyarakat perlu lebih cermat sebelum memilih guru, kiai, atau lembaga pendidikan bagi anak-anaknya. Langkah pertama yang harus dilakukan adalah meneliti rekam jejaknya. Tidak ada manusia yang maksum setelah Rasulullah SAW. Namun, masyarakat tetap dapat melihat kecenderungan akhlak seseorang dari perjalanan hidupnya. Bagaimana perilakunya terhadap keluarga, murid, tetangga, dan masyarakat? Apakah ia dikenal jujur, amanah, dan sederhana? Ataukah justru dikenal temperamental, materialistis, dan gemar mencela orang lain?
Selain itu, penting pula memperhatikan lingkungan keluarga dan tradisi keilmuan yang melahirkannya. Dalam banyak kasus, akhlak yang baik tumbuh dari lingkungan yang baik. Nasab memang bukan jaminan kesalehan, tetapi lingkungan keluarga sering menjadi salah satu petunjuk tentang proses pendidikan karakter yang dijalani seseorang.
Syekh Az-Zarnuji dalam kitab Ta'lim al-Muta'allim menekankan bahwa guru ideal harus memenuhi tiga kriteria utama: alim, wara', dan asnan. Alim berarti memiliki penguasaan ilmu yang mendalam. Wara' berarti sangat berhati-hati terhadap perkara haram dan syubhat. Asnan menunjukkan kedewasaan pengalaman dan kebijaksanaan. Guru yang baik juga harus sabar, penyantun, murah hati, serta menjaga kewibawaan ilmu yang diajarkannya.
Pada tingkat kelembagaan, masyarakat perlu melihat orientasi kurikulum pesantren atau sekolah Islam. Apakah pendidikan yang diberikan lebih menekankan pembentukan akhlak dan ketakwaan, atau justru hanya berorientasi pada kesuksesan duniawi? Pendidikan Islam yang sehat akan menempatkan prestasi akademik sebagai sarana, bukan tujuan akhir. Tujuan utamanya tetap pembentukan manusia yang beriman, berakhlak mulia, dan bermanfaat bagi sesama.
Di tengah krisis keteladanan yang terjadi saat ini, umat Islam memerlukan keberanian untuk lebih selektif dalam memilih panutan. Jangan mudah terpesona oleh popularitas, banyaknya pengikut, kemegahan bangunan, atau kepiawaian berbicara. Ukurlah seorang ulama dari akhlaknya, bukan dari panggungnya. Nilailah seorang guru dari keteladanannya, bukan dari pencitraannya.
Pada akhirnya, umat membutuhkan ulama yang menghidupkan hati, bukan yang memperdagangkan agama. Umat memerlukan guru yang mengantarkan manusia menuju Allah, bukan yang mengikat manusia kepada dirinya. Sebab ilmu yang benar tidak hanya mencerdaskan pikiran, tetapi juga membersihkan hati dan menuntun manusia menuju keselamatan dunia serta akhirat. (*)
Tinggalkan Komentar
Kirim Komentar