KAMPUS KARIER

MENSYUKURI SEBUAH KELAHIRAN

  • Administrator
  • Kamis, 22 Oktober 2026
  • menit membaca
  • 10x baca
MENSYUKURI SEBUAH KELAHIRAN

MENSYUKURI SEBUAH KELAHIRAN

YOGYAKARTA, jogja-ngangkring.com — Kelahiran seorang anak merupakan anugerah Allah yang patut disambut dengan rasa syukur. Namun, dalam kebiasaan masyarakat, kelahiran bayi sering diiringi berbagai harapan. Menjadi anak berbakti, membanggakan orang tua, berguna bagi bangsa dan negara, serta membela agama. 

Ungkapan tersebut terdengar baik dan sering disampaikan sebagai doa. Akan tetapi, jika dicermati lebih jauh, ada perbedaan mendasar antara mendoakan kebaikan seorang anak dan menetapkan tanggung jawab yang harus dipikulnya sejak kelahirannya. 

Seorang bayi belum mengenal dunia, belum memahami makna pengabdian, dan belum memiliki kesempatan untuk menentukan jalan hidupnya. Ia baru memulai kehidupan, tetapi orang dewasa telah menyusun daftar harapan tentang masa depannya.

Persoalannya bukan terletak pada baik atau buruknya harapan tersebut, melainkan pada cara orang tua memaknai kelahiran. Apakah kehadiran seorang anak pertama-tama disambut sebagai karunia Allah yang patut disyukuri, atau justru dijadikan awal dari berbagai tuntutan yang kelak harus dipenuhi anak itu?

Al-Qur'an memberikan landasan yang jelas tentang bagaimana seharusnya manusia mensyukuri  sebuah kelahiran. Surah Ibrahim ayat 39, Nabi Ibrahim memuji Allah atas karunia Ismail dan Ishaq ketika beliau telah lanjut usia. Ayat tersebut diawali dengan ungkapan Alhamdulillah, yang berarti segala puji bagi Allah. Anak ditempatkan sebagai karunia yang mengundang rasa syukur, bukan sebagai investasi yang harus menghasilkan balasan tertentu bagi orang tuanya.

Ungkapan Nabi Ibrahim tersebut mengandung pelajaran penting. Kehadiran anak patut disyukuri karena kehidupan itu sendiri merupakan pemberian Allah. Rasa syukur tidak harus menunggu anak berhasil meraih pendidikan tinggi, memperoleh pekerjaan bergengsi, menjadi pejabat, atau mengangkat nama keluarga. Bahkan sebelum anak mampu melakukan apa pun bagi orang lain, kehadirannya sudah menjadi alasan untuk bersyukur.

Surah Asy-Syura ayat 49–50 menjelaskan bahwa Allah menganugerahkan anak perempuan maupun laki-laki sesuai dengan kehendak-Nya. Ayat tersebut mengingatkan bahwa kelahiran seorang anak tidak berada dalam kendali manusia. 

Kelahiran semestinya menjadi momentum untuk mengakui keterbatasan manusia sekaligus mensyukuri karunia Allah. Anak hadir dengan kehidupan dan potensi yang perlu dirawat. Ia bukan milik orang tua dalam arti bahwa seluruh masa depannya boleh ditentukan berdasarkan keinginan keluarga.

Mendoakan anak agar menjadi saleh atau salehah merupakan harapan yang sejalan dengan ajaran Islam. Kata saleh mengandung makna kebaikan yang berkaitan dengan iman, akhlak, dan amal. Doa agar anak tumbuh menjadi pribadi yang semakin baik memiliki orientasi pembinaan karakter, bukan semata-mata pencapaian sosial.

Surah Ibrahim ayat 40: Rabbi-j'alni muqimash-shalati wa min dzurriyyati, rabbana wa taqabbal du'a—“Ya Tuhanku, jadikanlah aku dan anak cucuku orang yang tetap melaksanakan salat. Ya Tuhan kami, perkenankanlah doaku.” Doa ini memperlihatkan bahwa harapan terhadap keturunan diarahkan pada kualitas iman dan kehidupan spiritual. Bahkan Nabi Ibrahim memulai doanya dengan memohon agar dirinya sendiri menjadi orang yang menegakkan salat, sebelum menyebut keturunannya.

Ada pesan pendidikan yang penting di sini. Orang tua tidak cukup menuntut anak menjadi baik. Mereka juga harus berusaha menjadi teladan kebaikan. Doa bukan pengganti tanggung jawab mendidik, melainkan pengiring ikhtiar untuk menciptakan lingkungan yang membantu anak tumbuh dengan nilai-nilai yang baik.

Harapan agar anak berbakti kepada orang tua, berguna bagi masyarakat, dan memberi manfaat bagi bangsa tentu memiliki nilai positif. Namun, harapan itu menjadi persoalan ketika disampaikan sebagai kewajiban yang seolah-olah harus dibayar anak karena telah dilahirkan dan dibesarkan.

Anak bukan pihak yang membuat perjanjian untuk membalas pengorbanan orang tuanya. Ia tidak pernah meminta dilahirkan, sehingga kelahirannya tidak dapat diperlakukan sebagai utang yang harus dilunasi melalui prestasi, penghasilan, pengabdian, atau kepatuhan tanpa batas.

Islam memang mengajarkan pentingnya berbakti kepada orang tua. Namun perintah berbakti tersebut tidak berarti bahwa anak merupakan alat untuk memenuhi kebutuhan emosional, sosial, atau ekonomi orang tuanya. Berbakti merupakan nilai yang tumbuh melalui iman, kasih sayang, pendidikan, dan kesadaran moral. Nilai itu tidak semestinya dibangun dengan menanamkan rasa bersalah sejak anak masih bayi, seolah-olah kehidupannya adalah utang kepada keluarga.

Kewajiban orang tua justru hadir sejak awal kehidupan anak. Mereka bertanggung jawab memberikan pengasuhan, perlindungan, pendidikan, dan teladan. Anak membutuhkan kasih sayang yang tidak semata-mata bergantung pada prestasinya. Ia perlu merasakan bahwa dirinya dihargai bukan hanya ketika berhasil memenuhi harapan keluarga, melainkan juga ketika sedang belajar, melakukan kesalahan, atau menghadapi kegagalan.

Dalam perspektif pendidikan dan psikologi perkembangan, perbedaan antara dukungan dan tekanan patut diperhatikan. Harapan yang disertai pendampingan dapat membantu anak mengembangkan kemampuan dan tanggung jawab. Sebaliknya, tuntutan yang berlebihan dapat membuat anak merasa bahwa penerimaan dan kasih sayang hanya diperoleh apabila ia berhasil memenuhi standar orang lain. Dampaknya tidak selalu sama pada setiap anak, tetapi risiko tekanan emosional ini layak menjadi bahan refleksi dalam pengasuhan.

Amanah kelahiran bukan berarti tugas anak untuk membahagiakan orang tua. Amanah itu pertama-tama merupakan tanggung jawab orang tua untuk membantu seorang manusia tumbuh dengan sehat, berakhlak, dan mampu menjalani kehidupannya secara bertanggung jawab.

Rasulullah saw. bersabda bahwa setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah. Hadist tersebut menjelaskan pentingnya keadaan awal seorang anak dan pengaruh lingkungan keluarga dalam pembentukan kehidupannya. Fitrah tidak berarti bahwa anak akan otomatis menjadi pribadi sempurna tanpa pendidikan. Anak membutuhkan bimbingan, pembiasaan, kasih sayang, dan lingkungan yang baik.

Hadis tersebut mengingatkan bahwa pembentukan karakter berlangsung melalui proses. Seorang anak bukan pribadi dewasa yang sudah selesai dibentuk ketika dilahirkan, melainkan manusia yang sedang bertumbuh. Orang tua harus memberikan ruang bagi proses tersebut. 

Anak mungkin memiliki bakat, minat, kemampuan, dan pilihan hidup yang berbeda dari harapan keluarga. Ia mungkin kelak menjadi guru, petani, seniman, pengusaha, ilmuwan, atau menjalani profesi lain yang tidak pernah terbayangkan ketika ia masih bayi. Selama jalan hidupnya dijalani dengan cara yang baik dan bertanggung jawab, nilai dirinya tidak semestinya diukur hanya berdasarkan kebanggaan atau keuntungan yang dapat diberikan kepada keluarga.

Menjadi manusia yang saleh juga tidak selalu identik dengan jabatan tinggi, kekayaan, popularitas, atau prestasi yang mudah dipamerkan. Kesalehan tercermin dalam hubungan dengan Allah, kejujuran, kepedulian, tanggung jawab, dan perlakuan terhadap sesama. Kualitas-kualitas tersebut tumbuh melalui proses panjang, bukan melalui penetapan slogan ketika seorang bayi baru lahir. (Yun)

Tags: Parenting

Tinggalkan Komentar

Kirim Komentar