Membaca Ulang Kartini di Zaman yang Berbeda
Yogyakarta, jogja-ngangkring.com - Setiap 21 April publik Indonesia kembali menyebut nama Raden Ajeng Kartini. Ia hadir dalam ingatan kolektif, di ruang-ruang sekolah, di panggung seremoni, juga dalam narasi kebangsaan yang terus diulang. Namun, di balik perayaan Hari Kartini, ada satu gagasan yang kerap tereduksi tentang perjalanan perempuan dari kegelapan menuju terang.
Ungkapan “Habis Gelap Terbitlah Terang,” yang diabadikan dalam buku Habis Gelap Terbitlah Terang, sering dipahami sebagai metafora sosial dari keterbelakangan menuju kemajuan. Tetapi jika ditarik lebih dalam, gagasan ini juga memiliki resonansi spiritual yang kuat—sejalan dengan pesan dalam Al-Qur'an, yang berulang kali menggambarkan misi manusia sebagai perjalanan minaz-zulumāt ilā n-nūr—dari gelap menuju cahaya.
Kartini, dalam zamannya, hidup dalam “gelap” yang sangat konkret. Keterbatasan akses pendidikan, kungkungan tradisi, dan sistem sosial yang menempatkan perempuan di ruang sempit. Namun ia tidak sekadar menerima keadaan itu sebagai takdir. Ia membaca, menulis, dan berpikir, sebuah bentuk ikhtiar intelektual untuk mencari terang. Di sinilah titik temu antara Kartini dan pesan Qurani, terang bukan sesuatu yang datang begitu saja melainkan sesuatu yang diperjuangkan melalui kesadaran. Dalam perspektif Al-Qur'an, cahaya sering kali diidentikkan dengan ilmu, petunjuk, dan kebenaran. Sementara gelap adalah kebodohan, ketidakadilan, dan keterbelengguan.
Jika ditarik ke konteks hari ini, pertanyaannya menjadi relevan, " Apakah kita benar-benar sudah keluar dari “gelap”?"
Di era digital perempuan memiliki akses yang jauh lebih luas. Pendidikan terbuka, ruang publik semakin inklusif, dan peluang ekonomi berkembang pesat. Platform digital bahkan membuka jalan bagi perempuan untuk menjadi pelaku usaha, kreator, hingga penggerak komunitas. Namun, terang di era ini tidak selalu hadir dalam bentuk yang sederhana.
Ada “gelap” baru yang lebih subtil berupa banjir informasi tanpa verifikasi, standar sosial yang dibentuk algoritma, hingga eksploitasi dalam ruang digital yang tidak selalu kasat mata. Dalam konteks konsumsi misalnya, perempuan sering menjadi target utama pasar yang dibanjiri promosi, diskon, dan narasi kebutuhan yang sebenarnya dibentuk, bukan lahir secara alami.
Di titik ini, menjadi “terang” berarti memiliki kesadaran. Kesadaran untuk memilah informasi, memahami nilai, dan tidak larut dalam arus konsumsi yang tidak rasional. Jika Kartini memperjuangkan akses terhadap pendidikan sebagai jalan menuju terang, maka perempuan hari ini menghadapi tantangan yang berbeda yaitu bagaimana menggunakan akses itu secara bijak. Karena akses tanpa kesadaran justru bisa menciptakan bentuk kegelapan baru.
Pesan “dari gelap menuju terang” dalam Al-Qur'an tidak pernah berhenti pada satu zaman. Ia bersifat dinamis, mengikuti konteks kehidupan manusia. Begitu pula dengan Kartini, ia bukan sekadar tokoh sejarah, melainkan simbol proses. Proses berpikir, mempertanyakan, dan bergerak menuju kondisi yang lebih adil dan lebih sadar.
Peringatan Hari Kartini adalah ruang refleksi, "Apakah kita—baik perempuan maupun laki-laki—masih berjalan dalam kegelapan yang tidak kita sadari, atau justru sedang bergerak menuju terang dengan kesadaran penuh?" Sejatinya, terang bukan sekadar kondisi di luar diri, tetapi keadaan batin dan cara pandang. Dan seperti yang ditunjukkan Kartini, perjalanan menuju terang selalu dimulai dari keberanian untuk berpikir. (Yun)
Tinggalkan Komentar
Kirim Komentar