Dua Dunia Yaya Maria, Meja Notaris dan Kanvas
YOGYAKARTA, jogja-ngangkring.com — Sore belum sepenuhnya beranjak ketika seorang perempuan kelahiran Temanggung, Jateng kembali ke sebuah rumah di kawasan Jalan Palagan, Sleman. Setelah seharian menjalankan profesi sebagai notaris, ia kembali pada dunia yang sejak kecil tidak pernah benar-benar ditinggalkannya, melukis.
Di kediaman sekaligus sanggarnya Yaya Maria bekerja dan berkarya. Dengan kursi roda sebagai bagian dari keseharian, ia menjalani dua dunia yang berbeda, notaris dan perupa.
Perempuan berusia lebih dari setengah abad itu tertarik pada seni lukis sejak sekolah dasar. Ia beberapa kali mengikuti lomba melukis namun sempat terhenti karena kedua orang tua berharap anaknya tidak menjadi pelukis atau seniman.
Yaya kemudian menempuh pendidikan hukum hingga meraih gelar Sarjana Hukum dari Universitas Diponegoro dan melanjutkan pendidikan notariat di Universitas Gadjah Mada. Namun, kecintaan terhadap seni tidak pernah benar-benar hilang.
Setelah bekerja, ia mulai kembali menyentuh pensil dan kertas. Pada 2009–2011, ia mulai aktif membuat sketsa dan bergabung dengan komunitas Indonesia Sketchers Jogja. Melukis menjadi ruang untuk menyegarkan pikiran setelah menjalani rutinitas pekerjaan.
Momentum penting datang ketika pandemi Covid-19 membuatnya lebih banyak bekerja dari rumah. Kantor tidak buka seperti biasanya. Waktu yang sebelumnya tersita pekerjaan justru memberinya kesempatan kembali menekuni kanvas.
Sejak 2021, ia mulai serius belajar melukis dengan bimbingan trainer, termasuk Chamit Arang. Dari proses itulah kegemarannya berkembang menjadi perjalanan artistik yang lebih serius.
Ratusan karya telah lahir dari tangannya. Ia juga telah mengikuti sekitar 85 kali pameran di berbagai galeri, baik di Yogyakarta maupun sejumlah kota lain seperti Bali, Solo, dan Surabaya. Kini, bagi perempuan difabel ini, seni bukan sekadar kegiatan mengisi waktu luang.
“Seni itu luapan ekspresi,” katanya.
Yaya tidak tertarik melukis wajah atau pemandangan natural secara konvensional. Ia lebih menikmati permainan tekstur dan membiarkan gagasan mengalir ketika berhadapan dengan kanvas.
Lukisan itu menggambarkan perjalanan seorang perempuan yang berani mencari cahaya di tengah kegelapan. Sosok tersebut menjadi representasi keberanian untuk mengejar keinginan dan masa depan tanpa rasa takut.
Salah satu lukisannya berjudul "Langkah Pasti Sang Bidadari", akrilik di atas kanvas, 80x100 cm, karya tahun 2026. Perempuan itu adalah bidadari, penolong bagi anak-anaknya, baik anak biologis maupun anak ideologis. Walau sendirian dia berani melangkah melintasi batas untuk meraih cita-cita menjemput dunia yang lebih baik, kehidupan yang lebih baik. Digambarkan oleh lumba-lumba yang melintasi lautan, menuju daratan, menembus awan, hingga mencapai semesta tanpa batas.
“Kalau sudah memiliki keinginan, harus berusaha mencapainya tanpa rasa takut,” ujarnya.
Pesan yang kuat, lahir dari pengalaman hidupnya sendiri. Di tengah keterbatasan fisik dan kesibukan sebagai notaris, ia memilih tidak berhenti berkarya.
Pembuktian bahwa keterbatasan tubuh tidak membatasi keberanian seseorang untuk terus melangkah. (Tor)
Tinggalkan Komentar
Kirim Komentar