TERAS

Menjaga Nyala Kebaikan Setelah Ramadan

  • Administrator
  • Minggu, 05 April 2026
  • menit membaca
  • 22x baca
Menjaga Nyala Kebaikan Setelah Ramadan

Menjaga Nyala Kebaikan Setelah Ramadan

Yogyakarta, jogja-ngangkring.com - Pengajian rutin Ahad pagi di Masjid Al Barokah, Tinalan, Kotagede kembali digelar Minggu, 5 April 2026 dalam suasana yang masih kental dengan nuansa Syawal. Jamaah yang hadir memenuhi ruang TPA membawa semangat mencari ilmu sekaligus  bersilaturahmi setelah beberapa Minggu pengajian diliburkan. 

KH Abdul Muhaimin dari Pesantren Nurul Ummahat Kotagede hadir sebagai pengisi tausiyah, mengajak jamaah merefleksikan makna Syawal sebagai kelanjutan, bukan penutup dari perjalanan spiritual Ramadan.

Beliau  menegaskan bahwa Syawal bukan sekadar momentum tradisi saling memaafkan, melainkan fase penting untuk mengukur kualitas diri. Ia mengaitkan Syawal sebagai simbol kenaikan, sebuah fase di mana setiap pribadi seharusnya mengalami peningkatan, baik dalam ibadah maupun perilaku keseharian.

Secara makna kata, Syawal adalah ekor binatang yang terangkat ke atas—sebuah simbol yang menggambarkan posisi naik, bukan turun. Analogi ini menjadi penegasan bahwa setelah ditempa selama Ramadan, manusia tidak seharusnya kembali pada kebiasaan lama, melainkan justru bergerak menuju kualitas hidup yang lebih baik.

Dalam konteks ini konsep fastabiqul khairat kembali ditekankan. Berlomba-lomba dalam kebaikan, menurut beliau, bukan sekadar jargon yang diucapkan, tetapi harus diwujudkan dalam praktik nyata. Kebaikan tidak harus seragam, karena setiap individu memiliki kapasitas yang berbeda. Namun demikian, setiap orang memiliki standar minimal yang bisa diupayakan untuk terus bertumbuh. Syawal, dengan demikian, menjadi semacam ujian lanjutan. Ia menguji sejauh mana nilai-nilai Ramadan benar-benar tertanam dan berlanjut dalam kehidupan sehari-hari. Apakah semangat ibadah tetap terjaga, apakah kebiasaan baik terus dilanjutkan, atau justru perlahan memudar.

Kyai Muhaimin juga mengingatkan bahwa tantangan terbesar dalam menjaga kebaikan terletak pada diri sendiri, khususnya pada hati. Pikiran perlu ditata, tetapi hati harus semeleh—tenang, berserah, dan tidak mudah terombang-ambing oleh keadaan. Sebab, kecenderungan terhadap keburukan tidak hadir secara tiba-tiba, melainkan tumbuh perlahan. Ketika satu kesalahan dibiarkan, ia berpotensi membuka jalan bagi kesalahan berikutnya.

Selain itu cara pandang terhadap kehidupan juga menjadi perhatian. Dalam keseharian, manusia kerap terjebak dalam kebiasaan mengeluh—mulai dari hal sederhana hingga persoalan besar. Padahal, sikap tersebut justru memperberat langkah. Syawal mengajarkan pentingnya mengubah perspektif, dari keluhan menuju syukur, dari kegelisahan menuju ketenangan.

Hal yang sama juga berlaku dalam memaknai rezeki. Rezeki tidak semata-mata diukur dari aspek materi, tetapi juga mencakup kesehatan, waktu, kesempatan, dan ketenteraman hati. Tidak jarang, seseorang yang secara materi berkecukupan justru merasa kurang, karena kehilangan rasa cukup itu sendiri. Di sinilah pentingnya menata ulang pemahaman agar hidup tidak semata didasarkan pada perhitungan, tetapi juga pada keyakinan.

Sebagai penutup, Kyai Muhaimin menegaskan bahwa kehidupan manusia tidak sepenuhnya berada dalam kendali pribadi. Ada dimensi ketuhanan yang mengatur arah dan perjalanan hidup. Oleh karena itu, keseimbangan antara ikhtiar dan tawakal menjadi kunci. Tidak hanya berusaha, tetapi juga berserah dengan penuh keyakinan.

Syawal, pada akhirnya, bukan hanya tentang kembali pada kesucian, tetapi tentang menjaga dan meningkatkan kualitas diri setelahnya. Ia menjadi ruang pembuktian bahwa Ramadan benar-benar meninggalkan jejak yang nyata. Jika Ramadan adalah proses pembentukan, maka Syawal adalah fase penguatan. Di sanalah setiap pribadi diuji—apakah mampu naik ke tingkat yang lebih baik, atau justru terdegradasi.(Yun)

Tinggalkan Komentar

Kirim Komentar

Berita Terkait