"Negara Merobek Selimut Ibuku" Peluncuran Buku dan Pameran Sastra-Seni Rupa

jogja-ngangkring.com — Yogyakarta adalah salah satu pusat kebudayaan paling dinamis di Indonesia. Kota ini menjadi ruang perjumpaan berbagai identitas budaya, mulai dari masyarakat lokal yang kuat menjaga tradisi, komunitas seni yang terus berkembang, hingga warga dari berbagai daerah dan negara yang datang untuk belajar, berkarya, maupun menetap. Dengan lanskap kebudayaan yang demikian hidup, berbagai peristiwa seni dan budaya berlangsung hampir tanpa jeda dan senantiasa memperoleh perhatian publik.
Pada 5 Juni 2026 mendatang, Yogyakarta akan menjadi tuan rumah sebuah peristiwa budaya yang memadukan sastra, seni rupa, dan refleksi kritis atas sejarah politik Indonesia. Bertajuk "Negara Merobek Selimut Ibuku", kegiatan ini akan diawali dengan peluncuran buku pada Jumat, 5 Juni 2026 pukul 15.00 WIB di Sanggar Keselatan, Jalan Langenarjan Lor No. 8, Kraton, Yogyakarta. Setelah peluncuran, acara akan dilanjutkan dengan pameran lukisan yang berlangsung hingga 1 Juli 2026.
Kegiatan ini merupakan kolaborasi kreatif enam seniman yang bekerja dalam posisi setara, terdiri atas tiga penulis dan tiga pelukis. Antologi cerita pendek "Negara Merobek Selimut Ibuku" ditulis oleh Isti Nugroho, Indra Tranggono, dan Kamerad Kanjeng. Tiga karya sastra tersebut kemudian ditafsirkan kembali ke dalam medium visual oleh para perupa Moelyono, Rudi Winarso, dan Harjiman.
Sejumlah tokoh nasional memberikan apresiasi terhadap buku tersebut pada halaman endorsement. Menteri Hak Asasi Manusia, Natalius Pigai, menilai ketiga cerita pendek dalam buku ini berhasil merekam luka sosial yang dialami keluarga korban represi politik. Salah satu gambaran yang paling kuat adalah sosok seorang ibu yang terus melipat dan merapikan selimut anaknya yang bertahun-tahun tidak pulang setelah ditangkap aparat negara. Selimut itu menjadi simbol harapan yang tak pernah benar-benar padam di tengah kehilangan yang berkepanjangan.
Aktivis hak asasi manusia, Ifdhal Kasim, menilai buku ini penting dibaca oleh generasi pasca-Reformasi agar mereka memahami realitas politik yang pernah dialami masyarakat Indonesia pada masa pemerintahan Orde Baru.
Denny JA dalam prolog buku itu menempatkan Negara Merobek Selimut Ibuku sebagai sebuah “zikir kemanusiaan di tengah reruntuhan ideologi”. Tokoh-tokoh yang hadir dalam cerita bukanlah figur pinggiran, melainkan penjaga moral bangsa yang mempertahankan martabat kemanusiaan di tengah kekuasaan yang represif. Ia menggambarkan sosok seorang ibu yang setiap pagi melipat selimut anaknya yang telah delapan tahun menghilang. Selimut itu menjadi jembatan antara harapan dan kehilangan, antara kasih sayang seorang ibu dan kekerasan yang dilakukan negara. "Pesan utama buku ini terletak pada keyakinan bahwa di tengah penindasan, tugas manusia bukan hanya melawan, tetapi juga mempertahankan kemanusiaannya."
Pascapeluncuran buku, publik juga dapat menikmati pameran yang menampilkan 28 karya dari ketiga perupa yang terlibat. Pameran ini menghadirkan ragam pendekatan artistik yang berangkat dari pengalaman sejarah, refleksi sosial, dan hubungan manusia dengan ruang hidupnya.

Moelyono menghadirkan karya yang menjadi sampul buku Negara Merobek Selimut Ibuku. Lukisan tersebut menampilkan sosok seorang mama muda Papua yang memandang masa depan anak cucunya dengan kelelahan sekaligus kegelisahan. Inspirasi karya ini berangkat dari berbagai persoalan yang dihadapi Papua, mulai dari kerusakan lingkungan, terdesaknya ruang hidup masyarakat adat, eksploitasi sumber daya alam, hingga berbagai persoalan sosial-politik yang masih berlangsung. Dalam perspektif Moelyono, Papua tidak sekadar hadir sebagai wilayah geografis, melainkan sebagai simbol pergulatan manusia untuk mempertahankan tanah, identitas, dan masa depannya.
Karya lain yang menarik perhatian adalah lukisan wajah seorang kepala suku Papua karya Rudi Winarso. Berbeda dengan praktik melukis konvensional, Rudi menggunakan seduhan kopi dan berbagai rempah Nusantara sebagai medium utama. Selama puluhan tahun, ia mengembangkan eksplorasi artistik berbasis bahan-bahan alami sebagai upaya membangun dialog antara seni kontemporer dengan tradisi material Nusantara. Karyanya menghadirkan kesan seolah suara-suara purba dari peradaban awal kepulauan Indonesia masih berbisik dan hidup dalam praktik artistik masa kini.
Pelukis Harjiman, dikenal melalui karya-karya yang lahir dari refleksi mendalam mengenai rasa bersalah, penyesalan, pertobatan, dan kesadaran moral. Baginya, pengalaman manusia tidak selalu dapat ditebus secara sempurna, namun dapat menjadi ruang pembelajaran dan transformasi diri.
Salah seorang penulis, Kamerad Kanjeng, menjelaskan nahwa keseluruhan proyek sastra-seni rupa ini berangkat dari kesadaran untuk membangun dialog antara memori kolektif Nusantara dengan pengalaman manusia kontemporer. Pameran dan buku ini tidak dimaksudkan untuk menghadirkan romantisme masa lalu, melainkan mengajak publik membaca kembali jejak-jejak ingatan yang tersimpan dalam tanah, hutan, laut, tubuh manusia, serta berbagai pengalaman hidup rakyat Nusantara. Melalui pendekatan lintas medium, para seniman berupaya menghadirkan ruang refleksi mengenai hubungan manusia dengan sejarah, lingkungan hidup, dan ingatan kolektif yang perlahan memudar di tengah percepatan modernitas.
"Negara Merobek Selimut Ibuku" tidak semata event peluncuran buku atau pameran seni rupa semata, tapi sebuah ikhtiar kebudayaan untuk merawat ingatan, meneguhkan kemanusiaan, dan membuka kembali ruang dialog mengenai berbagai pengalaman sejarah yang masih menyisakan jejak hingga hari ini. (Yun)
Tinggalkan Komentar
Kirim Komentar