TERAS

WARISAN AHLAK HABIB ALI HABSYI

  • Administrator
  • Jumat, 02 Oktober 2026
  • menit membaca
  • 50x baca
WARISAN AHLAK HABIB ALI HABSYI

WARISAN AHLAK HABIB ALI HABSYI

Oleh: Yuliantoro

Haul ke-115 peringatan wafatnya Habib Ali bin Muhammad Al-Habsyi kembali digelar di kompleks Masjid Riyadh, Pasar Kliwon, Solo, 30 September–4 Oktober 2026. Ratusan ribu jamaah dari berbagai daerah dan sejumlah negara datang untuk mengikuti rangkaian acara. Majelis haul meliputi lantunan ayat-ayat Al Quran, pembacaan Maulid Simtudduror, kisah para alim, serta dipanjatkannya doa-doa. 

Habib Ali bin Muhammad Al-Habsyi bukan hanya dikenal sebagai pengarang Maulid Simtudduror. Ia dikenang sebagai ulama, pendidik, pendakwah, dan sosok yang keteladanannya terus dihidupkan oleh umat. Lebih dari satu abad setelah wafatnya, namanya masih disebut, ajarannya masih dibaca, dan akhlaknya masih menjadi rujukan. Di sinilah makna penting Haul Solo. Mengenang orang saleh bukan sekadar mengingat masa lalu, tetapi menghadirkan kembali nilai-nilai kebaikan yang pernah diperjuangkannya.

Habib Ali lahir di Qasam, Hadramaut, Yaman, Jumat, 24 Syawal 1259 Hijriah atau 1843 Masehi. Ia merupakan putra Habib Muhammad bin Husein Al-Habsyi dan Sayyidah Alawiyah binti Husain bin Ahmad Al-Hadi Al-Jufri. Perjalanan spiritual dan intelektualnya dimulai sejak masih kecil. 

Salah satu karya yang membuat namanya begitu dekat dengan umat Islam di berbagai belahan dunia adalah Maulid Simtudduror. Kitab ini tidak hanya dibaca sebagai teks keagamaan, tetapi menjadi medium untuk menumbuhkan kecintaan kepada Rasulullah Muhammad SAW. Di Indonesia, pembacaan Simtudduror hidup dalam berbagai majelis, pesantren, masjid, dan komunitas Muslim.

Habib Ali juga mendirikan Ribath Seiwun di Hadramaut. Lembaga pendidikan itu menjadi tempat pembelajaran agama sekaligus persemaian tradisi keilmuan. Dari sana, ilmu dan keteladanan tidak berhenti pada satu generasi.

Jejaknya berlanjut ke Indonesia melalui putranya, Habib Alwi bin Ali Al-Habsyi, yang kemudian menetap di Solo dan mendirikan Masjid Riyadh di kawasan Pasar Kliwon. Masjid inilah yang kemudian menjadi salah satu pusat kegiatan keagamaan dan tempat Haul Habib Ali Al-Habsyi diselenggarakan setiap tahun.

Haul Solo bukan sekadar peristiwa keagamaan tahunan. Ia telah menjadi ruang perjumpaan sosial yang mempertemukan ulama, habaib, santri, dan masyarakat dari berbagai latar belakang. Dalam satu majelis, perbedaan asal daerah dan status sosial melebur dalam kecintaan kepada Allah dan Rasulullah SAW.

Apa pesan substantif dari sebuah haul? Apa yang dapat diwarisi dari seorang ulama setelah lebih dari satu abad ia meninggalkan dunia? Jawabannya bukan sekadar nama besar, bukan pula kemegahan acara. Warisan paling penting adalah akhlak.

Habib Ali dikenal sebagai sosok yang lembut dalam berdakwah, penuh kasih sayang, penuh empati terhadap masyarakat, sekaligus memberi solusi atas berbagai persoalan kehidupan manusia. Perkataan dan perbuatan beliau seiring dengan yang dicontohkan Nabi Muhammad SAW. 

Rasulullah memberikan teladan yang sangat kuat, misi kerasulan bukan sekadar menyampaikan hukum, melainkan memperbaiki akhlak manusia. Tauhid menjadi fondasi, sedangkan akhlak menjadi manifestasi kehidupan. Manusia diajak mengenal Allah sekaligus belajar memuliakan manusia.

Beliau memperlakukan manusia dengan penuh martabat, dekat dengan kaum fakir dan lemah, membela mereka yang tertindas, serta secara bertahap menghapus praktik perbudakan. Dakwahnya tidak menjadikan manusia sebagai objek kebencian, tetapi sebagai makhluk Allah yang harus dimuliakan.

Habib Ali Al-Habsyi berusaha menghadirkan jejak akhlak Rasulullah itu dalam kehidupan sehari-hari. Kecintaannya kepada Rasulullah tidak berhenti pada pujian verbal. Cinta itu diterjemahkan melalui pelayanan kepada umat, pendidikan, kelembutan dalam berdakwah, dan keteladanan hidup. Kecintaan kepada Rasulullah dengan demikian bukan sekadar seberapa sering nama beliau disebut, tetapi sejauh mana akhlaknya hadir dalam perilaku manusia.

Ada pula teladan penting dari hubungan Habib Ali dengan ibundanya. Penghormatan dan baktinya kepada sang ibu menunjukkan bahwa kesalehan personal tidak dapat dipisahkan dari penghormatan kepada orang tua. Seorang alim tidak hanya diukur dari keluasan ilmu, tetapi juga dari bagaimana ia memperlakukan orang yang paling dekat dengannya.

Haul adalah momentum refleksi. Apakah setelah menghadiri majelis, akhlak kita menjadi lebih baik? Apakah hubungan kita dengan keluarga semakin hangat? Apakah kepedulian kepada fakir miskin bertambah? Apakah kebencian berkurang? Apakah kita semakin mampu menghormati orang lain yang berbeda? Pertanyaan-pertanyaan semacam itu jauh lebih penting daripada sekadar menghitung besarnya kerumunan.

Keberkahan orang saleh tidak berhenti ketika jasadnya telah dimakamkan. Ilmu, karya, keteladanan, dan nilai yang ditanamkan dapat terus hidup ratusan tahun kemudian. Dalam pengertian inilah seorang ulama tetap memberi manfaat setelah wafat. Kehidupannya menjadi semacam mata air yang terus mengalir melalui generasi.

Haul Solo adalah salah satu bukti bahwa keteladanan memiliki daya hidup yang panjang. Tantangannya sekarang adalah menjadikan warisan itu sebagai perilaku sosial. Masyarakat yang dibangun atas tauhid akan melahirkan manusia yang jujur, adil, rendah hati, peduli kepada sesama, menghormati yang lemah, serta tidak mudah menebarkan kebencian. Ukhuwah Islamiyah tidak cukup menjadi slogan. Ia harus hadir dalam kesediaan menolong, memaafkan, menghormati, dan menjaga martabat sesama. "Baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur." 

Habib Ali Al-Habsyi telah meninggalkan dunia pada 7 Februari 1915. Namun kematian tidak berarti berakhirnya pengaruh seseorang. Ketika ilmu terus diajarkan, karya terus dibaca, dan akhlak terus diteladani, seorang alim tetap hidup dalam ingatan dan perilaku generasi sesudahnya. Kebaikan terus mengalir tanpa dibatasi kematian. (Tor)

Tinggalkan Komentar

Kirim Komentar